SYAHADAH IMAM MUSA KADZIM
Imam Musa Kadzim adalah salah seorang keturunan Rasulullah saw. Ayahnya adalah Jafar Shodik, putra Muhammad Baqir, putra Ali Zainal Abidin Sajad, putra Imam Husain Syahid, putra Ali bin Abi Thalib atau putra dari Fatimah Zahra, putri Rasulullah saw. Imam Musa Kadzim hidup pada zaman Harun Al Rasyid di Baghdad.
Pada suatu hari, Harun Al Rasyid memanggil Imam Musa Kadzim ke hadapannya. Imam Musa Kadzim dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang tinggi martabatnya, pandai, kuat dan shalih dan zuhud. Imam Musa Kadzim mempunyai putra yang banyak. Sedangkan Harun Al Rasyid adalah salah seorang keturunan Bani Abbas. Abbas yang dimaksud di sini adalah paman Rasulullah saw.
Imam Musa Kadzim mempunyai murid yang banyak seperti ayahnya Jafar Shodiq. Jafar Shodiq adalah guru dari para imam mazhab Islam. Jika ada orang pandai disandingkan dengannya, maka orang yang pandai itu tak akan dapat melebihi kepandaian Imam Musa Kadzim dari setiap sisi. Imam Musa Kadzim, seperti datuk-datuknya, merupakan orang yang pandai. Tidak ada yang bisa menang berdebat dengannya. Imam Musa Kadzim bagi pengikutnya adalah guru dan pemimpin pengganti Rasulullah saw. Kepopuleran Imam Musa Kadzim ini mengkhawatirkan Harun Al Rasyid, sekalipun tidak terlihat gelagat Imam Musa Kadzim akan merebut kekhalifahan. Namun Khalifah Harun Al Rasyid mempunyai kekhawatiran tersendiri.
Ketika berhadapan dengan Imam Musa Kadzim, Harun Al Rasyid berkata kepada Imam Musa Kadzim, "Wahai Imam Musa Kadzim, apa bedanya aku dengan engkau? Kita sama-sama Quraisy. Kita juga sama-sama Bani Hasyim. Maka khalifah ini juga adalah hakku. Karena aku telah memegang kekhalifahan, tidak sepantasnya engkau mengambil kekhalifahan dariku."
Imam Musa Kadzim berkata, "Tahukah engkau apa bedanya aku dengan engkau?" Harun Al Rasyid berkata, "Coba jelaskan!" Imam Musa Kadzim berkata, "Seandainya hari ini Fatimah Zahra dihidupkan kembali, dapatkah engkau menikah dengannya?" Harun Al Rasyid menjawab, "Tentu dapat." Imam Musa Kadzim berkata, "Engkau, benar. Seandainya hari ini Fatimah Zahra dihidupkan kembali, engkau menikah dengannya karena engkau misan dari Fatimah Zahra. Tetapi aku, tak bisa menikah dengannya karena Fatimah Zahra adalah nenekku." Itulah perbedaan antara Imam Musa Kadzim dengan Khalifah Harun Al Rasyid.
Pada mulanya Khalifah Harun Al Rasyid berusaha membujuk Imam Musa Kadzim agar berpihak kepadanya. Tetapi Imam Musa Kadzim menolak. Karena Imam Musa Kadzim pun akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Imam Musa Kadzim menghabiskan hari-harinya di dalam penjara Harun Al Rasyid dengan salat dan bersujud kepada Allah swt.
Pada suatu hari seorang wazir istana memeriksa penjara. Sampai di suatu sel, ia melihat seonggok kain hitam yang lusuh. Ia lalu bertanya kepada penjaga, "Apa ini? Ini kain hitam yang kusam, coba buang dan bersihkan!" Penjaga menjawab, "Tuan, itu bukan kain hitam yang kusam, itu Imam Musa Kadzim yang sedang bersujud."
Imam Musa Kadzim wafat di dalam penjara Harun Al Rasyid. Imam Musa Kadzim sakit karena racun yang diberikan kepadanya. Imam Musa Kadzim wafat pada bulan Rajab ini.
Monday, July 20, 2009
Rajab SYAHADAH IMAM MUSA KADZIM
Posted by Iswara at 7:24 AM 0 comments
Labels: Rajab
Wednesday, July 8, 2009
Rajab KEUTAMAAN ALI BIN ABI THALIB
KEUTAMAAN ALI BIN ABI THALIB
Pada suatu hari, ketika Ali bin Abi Thalib menyampaikan keutamaan-keutamaan para nabi, salah seorang murid dan sahabat Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Ali, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang lebih mulia, engkau atau Nabi Adam as?" Ali menjawab, "Allah swt memberi makanan surga bagi Adam as dan mengharamkan satu pohon bagi Adam as. namun Adam as melanggarnya. Sedangkan kepadaku, Allah swt menghalalkan segala makanan yang ada di dunia namun aku hanya makan roti kering saja."
Sahabat tersebut bertanya lagi, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang lebih mulia, engkau atau Nabi Nuh as?" Ali menjawab, "Ketika umat Nuh as durhaka kepada nabi-Nya, Nuh as mengangkat tangannya dan berdoa agar Allah swt menurunkan azab bagi mereka. Allah swt mengabulkan doa Nabi Nuh as dan mengazab kaumnya. Ketika umat Muhammad saw melanggar wasiat Nabi saw agar mereka menjaga keluarganya (tsaqolain), mereka melanggarnya, namun aku tidak berdoa agar Allah swt menurunkan azab bagi mereka. Nabi Nuh mempunyai sejumlah putra dan seorang di antaranya durhaka kepada ayahnya sehingga tenggelam di dalam bahtera. Sedangkan aku dikaruniai Allah dua orang putra yang menjadi pemuda penghulu surga yakni Hasan dan Husain."
Sahabat tersebut bertanya lagi, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang lebih mulia engkau atau Nabi Isa as?" Ali menjawab, "Ketika Maryam mengandung Nabi Isa as, Allah swt memerintahkan Maryam untuk keluar dari Baitullah, padahal Maryam adalah perempuan yang menghabiskan siang dan malamnya untuk beribadah di Baitullah. Ketika Ibuku, Fatimah bintu Assad mengandungku, suatu malam Fatimah keluar untuk bertawaf di sekeliling kabah. Saat itu kabah terbelah dan menyebabkan Fatimah masuk ke dalamnya. Dia tinggal di dalamnya selama tiga hari hingga aku terlahir ke dunia. Dinding kabah kembali terbelah untuk menyebabkan Fatimah keluar dari kabah. Ketika Fatimah keluar bersama seorang bayi, Rasulullah saw telah menunggu munculnya Fatimah. Fatimah pun pergi mendatangi Rasulullah saw. Rasulullah lalu bertanya, 'Siapa nama anak ini?' Fatimah menjawab, 'Engkaulah yang akan menamainya ya Rasulullah. Namun aku memanggilnya Haedar.' Rasulullah berkata, 'Ketahuilah bahwa Allah swt memberi nama kepada anak ini seperti namanya. Namanya adalah Ali karena ia mencerminkan Allah Yang Mahatinggi.' Sebelum Fatimah menyusui putranya, Rasulullah menyusui Ali dengan ludah suci beliau saw."
Sahabat tersebut bertanya lagi, "Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang lebih mulia engkau atau Nabi Muhammad saw?" demikian pertanyaan itu selesai, spontan Ali menjawab, "Aku adalah salah seorang budak dari budak-budaknya Rasulullah, Muhammad saw."
Demikianlah, Ali memposisikan dirinya sebagai budak Muhammad. Tak ada perintah Muhammad yang dilanggar oleh Ali bin Abi Thalib, juga ketika Nabi saw berpesan ihwal pelanggaran umat terhadap terhadap khalifah beliau saw. Nabi memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk bersabar.
Posted by Iswara at 9:08 AM 0 comments
Labels: Rajab
