Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Penelitian. Show all posts

Thursday, December 31, 2009

Penelitian LAPORAN PENELITIAN

Laporan Penelitian

Laporan penelitian didasarkan pada masalah yang akan diteliti. Pada penelitian pendidikan masalah-masalah yang dikaji pun berkenaan dengan pendidikan di antaranya prestasi pembelajar, kinerja pembelajar, pengembangan media, penggunaan media dan lain-lain. Penelitian lainnya dapat berkenaan dengan penemuan hukum, hukum ilmiah, barang, bahan dan lain-lain.

Pada penelitian pendidikan, seorang peneliti dapat mengambil data dengan tes dan nontes (misalnya observasi). Peneliti dapat menganalisis data secara kualitatif atau kuantitatif.

Penelitian kuantitatif diyakini oleh sebagian pakar berujung pada teknik-teknik statistik. Di sisi lain, penelitian kualitatif biasanya tidak berujung pada teknik-teknik statistik. Sekalipun demikian, penelitian kualitatif pun tidak haram menggunakan rata-rata, nilai tertinggi, nilai terendah, standar deviasi untuk melengkapi penelitiannya.

Teknik-teknik statistik kadang-kadang ditakuti oleh para peneliti muda atau calon peneliti (mahasiswa) karena mereka tidak menguasai teknik statistik ini. Pada zaman sekarang, begitu bertebaran buku-buku statistik yang dapat mencerdaskan mahasiswa yang ingin belajar statistik.

Penelitian tindakan kelas tidaklah mutlak harus kualitatif atau kuantitatif. Penelitian pendidikan pun tidaklah mutlak harus kuantitatif atau kualitatif. Kecenderungan peneliti pada salah satu pendekatan itulah yang mendorongnya memilih salah satu pendekatan itu (kuantitatif atau kualitatif). Di samping itu masalah penelitian itu sendirilah yang mendorong peneliti untuk cenderung pada salah satu pendekatan itu.

Saturday, December 5, 2009

Penelitian E-LEARNING: BABAK BARU DI UPI KAMPUS SUMEDANG

E-LEARNING: BABAK BARU DI UPI KAMPUS SUMEDANG

Mulai pertengahan tahun ini (sekitar bulan Juni 2007) UPI Kampus Sumedang telah mengembangkan situs e-learning. Para pengajar dan pembelajar dapat mengakses situs e-learning ini dari alamat http://kd-sumedang.upi.edu. Situs ini didukung penuh oleh teknologi Moodle (moodle.org). Teknologi Moodle merupakan teknologi e-learning yang dikenal luas oleh pengguna / programer internet berbasis personal home pages (PHP: Hypertext Preprocessor) karena berupa open source program. Sekali program ini terpasang di server, pengguna (pengajar dan pembelajar) dapat melakukan berbagai aktifitas belajar-melajar dengan basis e-learning.

Di UPI Kampus Sumedang sendiri terdapat beberapa pengajar yang berpotensi untuk dapat menggunakan Moodle sepenuhnya (lihat boks angket). Pelajaran-pelajaran bahasa, matematika, ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu pengetahuan alam berpotensi dikembangkan di sana. Setidaknya di UPI Kampus sumedang sendiri terdapat dosen teknologi informasi dan komunikasi dan dosen penggunaan komputer bagi pengajar taman kanak-kanak.

Salah satu pertanyaan mengemuka berkenaan dengan internet dan e-learning. Perlukah penguasaan teknologi informasi bagi pengajar sekolah dasar dan taman kanak-kanak? Seorang dosen teknologi informasi dan komunikasi (DTIK) UPI Kampus Sumedang berpendapat bahwa calon pengajar sekolah dasar dan taman kanak-kanak tidak kurang perlunya dalam penguasaan teknologi informasi karena era perdagangan bebas memungkinkan pengajar untuk mempunyai kualitas demikian. Tidak diragukan lagi bahwa komputer tidak hanya diperlukan oleh orang berdisiplin ilmu komputer saja. Komputer bahkan telah menjadi kebutuhan pribadi setiap individu. Idealnya, satu komputer untuk satu orang. Hal ini menjadi salah satu dasar dikembangkannya e-learning di UPI Kampus Sumedang.

Dari tampilan luarnya situs UPI Kampus Sumedang ini dikembangkan dari theme yang berbeda dari default Moodle. Situs UPI Kampus Sumedang menggunakan theme silver sehingga ketika seseorang mengaksesnya, terlihat situs ini didominasi oleh warna perak dengan tulisan yang jelas berwarna hitam. Situs ini masih menggunakan default bahasa Inggris. Sekalipun demikian, pelajaran-pelajaran yang di-upload di sana menggunakan bahasa Indonesia. Program Moodle sebenarnya dapat diinstal dengan berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Halaman awal situs ini menampilkan berita, pemberitahuan dan kolom log-in.

Pada umur yang relatif muda, situs ini memang baru menampilkan berita, di antaranya berita penerimaan mahasiswa baru (Juni), kuliah kerja nyata UPI Kampus Sumedang (Juli), praktik pengalaman lapangan (PPL) kependidikan (Agustus). Pada situs ini pula terdapat beberapa kuis dan survey yang merupakan contoh (demo) bagi pengajar untuk dapat menyusun kuis yang relevan dengan mata kuliahnya masing-masing. Kuis yang ditampilkan sebagai contoh ialah kuis kebersihan (IPS), sastra, dan matematika. Tanpa harus log-in, pengguna dapat mencoba kuis ini. Pengguna kuis ini dituntut untuk mengerjakan soal pilihan jamak (multiple choice) dan esai singkat. Karena hanya contoh, soal yang diberikan tak lebih dari 10 soal. Pengakses soal langsung mendapatkan nilai setelah mengerjakan soalnya. Selain terdapat kuis, sekalipun belum terdapat di situs ini, e-learning berbasis Moodle memungkinkan pengajar dan pembelajar berinteraksi melalui pengiriman tugas-tugas atau memasuki ruang obrol (chat), atau berkirim pesan (offline messages, seperti e-mail).

Di samping berita dan kuis, dalam situs ini pun terdapat link pada situs Moodle lainnya, di antaranya situs FPMIPA UPI Bandung (http://fpmipa.upi.edu/kuliah), FPTK UPI Bandung (http://fptk.upi.edu), dan Universitas Terbuka. Dengan melihat situs lain dalam link ini, pengajar dan pembelajar dapat melihat potensi pengembangan situs UPI Kampus Sumedang bagi mereka sendiri. Salah seorang dosen UPI Kampus Sumedang telah berkomunikasi dengan dosen FPMIPA berkenaan dengan penggunaan Moodle. Dosen UPI Kampus Sumedang lainnya bahkan diizinkan melihat video presentasi dosen FPMIPA sebagai bagian dari kegiatan Moodlenya. Bertukar informasi, berkirim pesan, mengisi bulletin board merupakan kegiatan yang lazim dilakukan bahkan di situs resmi Moodle (moodle.org).

Selanjutnya, bila seseorang diizinkan log-in ke dalam situs UPI Kampus Sumedang ini, ia dapat mengakses mata kuliah yang ada di dalamnya. Dalam situs ini terlihat beberapa mata kuliah tengah dikembangkan. Mata kuliah ini terlihat masih dalam pengembangan dan tidak terkunci oleh password. Mata kuliah yang terlihat di situs ini adalah (1) Dasar-dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi, (2) Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Rendah, (3) Teori dan Sejarah Sastra, (4) Membaca dan Menulis di Sekolah Dasar: Teori dan Praktik, serta (5) Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi. Pada mata kuliah Teori dan Sejarah Sastra terdapat beberapa diskusi awal berkenaan dengan beberapa materi kuliahnya berupa link pada beberapa situs sajak dan file pembacaan sajak.

Menurut salah seorang dosennya yang merupakan admin dari situs UPI Kampus Sumedang, penggunaan e-learning ini memungkinkan banyak potensi bagi para pengajar (dosen) dan pembelajar (mahasiswa) UPI Kampus Sumedang. Potensi ini bisa disertakan dalam penelitian pada setiap disiplin ilmu berkenaan dengan e-learning, misalnya berkenaan dengan prosedur, efektifitas dan efisiensi. Modul Moodle sendiri dapat dikembangkan menurut situs resminya. Untuk mendukung penelitian seperti itu, Moodle mempunyai perangkat survey yang telah diinstal di situs UPI Kampus Sumedang.

Di UPI Kampus Sumedang terdapat 25 komputer yang online dengan network internet. Kedua puluh lima komputer itu terdapat dalam satu gedung yang dibagi menjadi dua ruang. Sekalipun rasio jumlah komputer dengan mahasiswa tidak ideal, keberadaan komputer itu amat meringankan dahaga keingintahuan pembelajar tentang teknologi internet. Selain 25 komputer itu, ada pula komputer lain yang dijalankan di luar network yaitu satu buah di gunakan sebagai administrasi perpustakaan, tiga buah di kantor akademik, dan dua buah digunakan di kantor tata usaha. Beberapa laptop digunakan sebagai pesawat portable untuk presentasi di kelas-kelas tertentu dan kelas pascasarjana. Tidak seperti di UPI.net Bumi Siliwangi dan Pascasarjana UPI Kampus Bumi Siliwangi, UPI.net Kampus Sumedang belum memasang hotspot WiFi di kampusnya. Di Sumedang sendiri pada saat ini (di luar Jatinangor) hanya UPI Kampus Sumedang yang merupakan kampus yang online.

Keberadaan situs ini akan bergantung pada potensi pengajar dan pembelajarnya. Menurut Erik, salah seorang pembelajar UPI Kampus Sumedang, penggunaan e-learning bagi pembelajar dapat saja diwajibkan. Pengajarlah yang mempunyai inisiatif untuk menentukan penggunaan media e-learning itu. Menurutnya pula partisipasi pembelajar secara mutlak diperlukan mengingat pentingnya penguasaan komputer seiring tuntutan zaman.

Sebanyak 35 lembar angket yang disebar kepada para pembelajar UPI Kampus Sumedang dan 10 lembar disebar kepada pengajar UPI Kampus Sumedang menunjukkan 53,33% dari responden cukup tertarik pada situs UPI Kampus Sumedang (http://kd-sumedang.upi.edu). Namun, dari pembelajar itu 42,22% dari responden mengaku kurang tertarik pada e-learning. Diketahui pula bahwa selama ini 60,00% dari responden merasa kurang terbantu dengan e-learning.

Hasil angket di atas merupakan gambaran bagi pembelajar dan pengajar UPI Kampus Sumedang tentang e-learning dan situs http://kd-sumedang.upi.edu. Harapan bagi pengembangan wawasan pengajar dan pembelajar UPI Kampus Sumedang jelas terbuka lebar mengingat umur situs ini yang masih relatif muda, atau boleh dikatakan masih bayi (dua bulan sejak Juni 2007).

Monday, November 16, 2009

Penelitian DATA AWAL

DATA AWAL

Penelitian tindakan kelas (PTK) dimulai dari masalah yang ada di kelas. Data awal dari PTK bermula dari masalah yang dialami pembelajar di kelas. Biasanya masalah ini berkenaan dengan prestasi pembelajar. Pembelajar mengalami kesukaran dalam meningkatkan prestasinya. Dengan begitu, pengajar melakukan suatu tindakan untuk memperbaiki pembelajaran. Kesukaran yang dialami siswa itu merupakan data awal dari penelitian PTK.

Data awal dari suatu kelas bisa saja berupa rata-rata kelas yang di bawah standar (misalnya pemahamannya kurang dari 60%). Data awal juga bisa berupa rendahnya prestasi mayoritas pembelajar. Sekalipun demikian, beberapa pakar meyakini bahwa penelitian tindakan kelas tidak selalu berkenaan dengan mayoritas atau rata-rata. Penelitian tindakan kelas juga dapat digunakan pada kasus atau minoritas siswa yang rendah prestasinya.

Data awal dari suatu PTK juga mencerminkan prestasi pembelajar. Ada peneliti yang merasa bahwa rata-rata pemahaman 60% tidaklah begitu baik untuk suatu kelas. Dengan begitu, ada peneliti yang baru puas bila rata-rata pemahaman pembelajar 80%, 90% atau bahkan 100%.

Kesimpulan yang dapat ditaik dari uraian di atas ada dua. Pertama, data awal tidak mesti terlalu buruk dalam PTK karena kasus siswa yang tidak lulus suatu materi pun bisa saja diangkat menjadi PTK. Kedua, peneliti dapat berhenti pada siklus tertentu (tidak mutlak siklus ke-3) saat peneliti merasa pembelajar mengalami perbaikan atau pengayaan atau lulus.

Friday, June 26, 2009

Penelitian ASUMSI

ASUMSI

Asumsi dibuat berdasarkan hipotesis yang telah diajukan. Latar belakang atau rasional mestinya mendukung asumsi yang dibuat. Contoh asumsi berikut bukan berkenaan dengan analisis statistik, melainkan berkenaan dengan analisis data. Asumsi berikut berkenaan dengan proposal bagi studi pengajaran ilmiah.
1. Perilaku ditandai dengan suatu kecenderungan konsistensi.
2. Perilaku ketertarikan dapat diobservasi dan dapat diukur.
3. Semua individu di dalam grup mendapatkan perlakuan setara.
4. Setiap subjek dapat melaporkan persepsinya secara akurat.
5. Waktu yang diberikan untuk perlakuan (treatment) diharapkan memberikan efek yang diinginkan.
6. Semua variabel penting yang mempengaruhi variabel dependen telah dikontrol atau secara eksplisit terdapat dalam desain.
7. Keberadaan pembelajar diukur dari perilaku di sekolah maupun di luar sekolah.

Wednesday, April 29, 2009

Penelitian BEKERJA BERSAMA GURU BESAR

BEKERJA BERSAMA GURU BESAR

Salah satu pengalaman yang berharga ketika belajar di perguruan tinggi adalah bekerja bersama guru besar. Pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan mahasiswa di antaranya membuat buku (juga bimbingan skripsi), mengajar (menjadi asisten), penelitian atau studi lapangan.

Di sebuah universitas banyak sekali guru besar yang menjadi barometer pengajaran di perguruan tinggi itu. Beberapa guru besar yang bisa disebut di antaranya Prof. Dr. Ahmad Slamet Harjasujana, M.A., Prof. Dr. Syamsuddin AR., M.S., Prof. Dr. Kosadi Hidayat S., M.Pd., Prof. Dr. Yus Rusyana, Prof. Dr. Jus Badudu. Beberapa nama di universitas merupakan doktor yang ahli dalam bidangnya, di antaranya Dr. Vismaia S. Damaianti.

Di dalam kerja sama itu pengalaman yang berharga bisa diperoleh pembelajar. Di dalam proyek pembuatan buku, pembelajar (mahasiswa) bisa belajar banyak hal, mulai dari ejaan, materi, pengetikan, penyuntingan dan lain-lain. Di dalam proyek pengajaran, tentu saja pengalaman mengajar guru besar dapat ditransfer oleh para pembelajar dan asistennya.

Di perguruan tinggi, para pembelajar telah dewasa dan mandiri. Mereka bisa mengerti dengan cepat saran-saran dari guru. Pembelajar ini bukan lagi murid-murid sekolah dasar yang masih pantas disuapi. Bahkan pembelajar di perguruan tinggi dapat memberi masukan yang berharga. Kemampuan pembelajar di perguruan tinggi mirip sekali dengan kemampuan seorang profesional. Guru besar acap kali memanfaatkan kemampuan mereka di dalam proyek-proyek penelitiannya.

Pengalaman bekerja dengan guru besar merupakan pengalaman yang sangat menarik. Semakin lama bekerja sama dengan guru besar semakin banyak pengalaman yang dapat diperoleh. Tentu saja seseorang berharap bahwa pengalaman yang diperolehnya merupakan pengalaman yang berharga, bukan pengalaman yang buruk, menyakitkan dan penuh kejahatan dan penipuan.

Pengajar di perguruan tinggi maupun di instansi di bawahnya diharapkan menjadi intelektual publik yang dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Demikian pula pengajar di perguruan tinggi semestinya dapat membimbing mahasiswa melakukan penelitian (skripsinya). Skripsi di bawah bimbingan pengajar yang profesional akan memberikan sumbangan bagi perkembangan pengetahuan.

Wednesday, April 15, 2009

Penelitian PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS DI INTERNET

PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS DI INTERNET

Pendahuluan
Teknologi informasi (TI) berupa internet telah masuk dan berkembang di masyarakat. Melihat potensi internet yang begitu besar masyarakat bersama-sama pemerintah secara serempak berusaha meraih teknologi internet sebaik-baiknya. Pada tahun 1990-an komputer baru saja dikenal secara massal di perguruan tinggi. Pada tahun 2000-an teknologi komputer telah berkembang menjadi teknologi internet yang sangat besar potensinya bagi pendidikan di perguruan tinggi.

Perkembangan teknologi informasi (TI) atau teknologi internet sudah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Para pemuda tak bisa menolak rasa ingin tahunya akan teknologi internet. Hari demi hari pengetahuan mereka semakin bertambah. Para pemuda itu bisa melakukan berbagai aktifitas di internet seperti browsing, chatting, uploading (posting files), e-mail, milis (groups), forum atau video conferencing.

Pengguna internet pun merasakan banyak manfaat dari internet. Pengguna pun memanfaatkan potensi-potensi yang tumbuh sejalan dengan berkembangnya internet. Orang-orang yang bergerak di dalam bisnis melihat potensi perdagangan melalui internet sehingga tumbuhlah e-commerce. Orang-orang yang bergerak dalam bidang pendidikan melihat potensi pendidikan melalui internet sehingga tumbuhlah e-learning. Orang-orang yang bergerak dalam bidang pers melihat potensi yang besar melalui internet sehingga berkembanglah blog dan situs jurnalistik lainnya.

Pendidikan di dalam internet atau lebih dikenal dengan sebutan e-learning mempunyai banyak cabang dengan spesifikasinya. Bahkan penggunaan internet secara lazim merupakan kegiatan pembelajaran seseorang berkenaan dengan hal-hal penting yang menarik baginya. Seseorang yang sedang surfing sesungguhnya sedang mencari informasi yang berkenaan dengan kebutuhannya atau kesenangannya. Pengajar dapat membimbing pembelajar untuk mencari informasi yang penting dan relevan dengan pendidikan mereka. Dengan adanya bimbingan dan arahan pengajar berkenaan dengan tema-tema penting di internet, pembelajar akan memahami pentingnya internet. Bahkan pembelajar akan terhindar dari situs negatif seperti pornografi dan situs ekstrem lainnya.

Pengajar membaca yang mendalami internet akan melihat potensi yang besar di dalam internet bagi pembelajaran. Pengajar menulis yang mendalami internet akan melihat potensi yang besar di dalam internet bagi pembelajaran. Pengajar sastra yang mendalami internet akan melihat potensi yang besar di dalam internet bagi pembelajaran.

Pembelajaran Membaca di Internet
Secara spesifik, orang akan bertanya dapatkah internet dikembangkan untuk pelajaran membaca? Pada masa dahulu pembelajaran membaca dilakukan dengan manual yaitu pengajar memberikan ceramah berkenaan dengan teori model membaca. Selanjutnya pengajar menyediakan bacaan dan mengadministrasikan tes membaca kepada pembelajar. Pengajar dapat menghitung kemampuan membaca pembelajar.

Setelah cara manual, pembelajaran membaca dibuat menjadi program komputer. Program komputer itu dibuat sebagai aplikasi file yang dapat dieksekusi (executable file application). Pengajar merancang program yang dapat menyimpan sejumlah wacana dan sejumlah tes untuk menguji pemahaman wacana itu.

Di dalam dunia internet, pengguna internet akan berpikir secara serius tentang usaha membangun suatu situs yang menyediakan wacana-wacana untuk latihan dan ujian. Pembelajar yang mengunjungi situs ini dipersilakan untuk membaca teori model membaca, selanjutnya pembelajar membaca wacana dan mengikuti ujian pemahaman wacananya.

Membaca di Internet
Internet merupakan media yang menuntut penggunanya untuk membaca. Pelajaran membaca secara langsung mendapatkan tantangan dengan adanya teknologi informasi ini. Ketika seorang pengguna internet melakukan aktifitas browsing dari internet, ia akan berhadapan dengan sebuah teks atau hiperteks (hypertext). Hiperteks ini memungkinkan sebuah teks yang ada memiliki gambar, suara, film atau hubungan (link) ke hiperteks lain. Teks yang ia dapatkan dari aktifitas browsing ini akan dibaca oleh pengguna internet dan mesti dipahami dengan baik.

Pada titik ini internet secara umum dan lazim dikenal sebagai media yang menuntut penggunanya untuk membaca. Dengan adanya kecenderungan manusia menyukai internet, kecenderungan manusia untuk membaca pun turut bertambah. Dunia akan semakin kecil karena manusia di timur akan mengetahui berita-berita dari barat.

Kekayaan Teks di Internet
Pada hari ini jutaan file dalam bentuk hiperteks di simpan di komputer-komputer pelayan (server) yang memberikan layanan bila ada permintaan dari pelanggannya (client atau browser). Jutaan teks dibaca manusia setiap harinya. Teks ini setiap hari diperbaharui. Pembacanya pun semakin cerdas memilih situs yang penting bagi kehidupannya.

Pengajar dapat mencari teks sebanyak-banyaknya dari internet. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah. Bahkan pengajar pun dapat meminta bantuan pembelajar untuk mendapatkan teks yang sesuai dengan minat pembelajar itu sendiri. Bila pembelajar memahami penghitungan keterbacaan suatu wacana, pengajar dapat menugasi pembelajar untuk mencarikan teks yang cocok bagi kelas umur mereka.

Wacana yang dibuat oleh pengguna internet dapat ditemukan dengan mudah misalnya di situs-situs blog, situs jurnalistik atau di situs-situs umum lainnya. Pada saat ini pengguna internet dapat membaca blog yang dibuat oleh penulis blog di internet. Sekalipun ada blog yang ditulis dengan berorientasi pada pribadi, tidak sedikit blog yang dikembangkan sangat serius sehingga baik tampilannya maupun tulisan yang dikembangkan di dalamnya mirip dengan media cetak yang profesional dan komersil. Beberapa penulis bahkan memuat blognya dengan tulisan yang telah dimuat di media-media cetak.

Asesmen Membaca melalui Internet
Asesmen yang dilakukan dari membaca merupakan aspek lainnya dari pembelajaran membaca. Dalam pembelajaran membaca, asesmen membaca ini sangat penting untuk memotivasi serta meningkatkan pemahaman membaca. Seseorang yang mempunyai pemahaman 50% dari suatu wacana akan dituntut untuk mempelajari teknik atau model membaca sehingga pemahamannya bertambah.

Untuk dapat diadministrasikan sebagai bacaan asesmen membaca, suatu wacana harus memiliki keterbacaan yang memadai. Selain memiliki keterbacaan yang memadai, sebuah wacana yang hendak diadministrasikan untuk asesmen bagi pembelajar mesti memiliki tema wacana yang menarik. Pemilihan tema juga mesti disesuaikan dengan kelompok umur. Sebagai contoh, pembelajaran membaca di fakultas bahasa dan sastra sebaiknya mempertimbangkan untuk tidak memasukkan wacana latihan bertema teknologi mesin yang teknis. Pembelajaran membaca di fakultas pendidikan dasar sebaiknya mempertimbangkan untuk tidak memasukkan wacana latihan bertema cinta atau pendidikan seksual.

Pada saat ini internet telah memungkinkan untuk mengadministrasikan asesmen melalui dunia internet. Munculnya program e-learning dengan basis hypertext preprocesor (PHP) memungkinkan pengajar untuk mengadministrasikan latihan dan tes membaca di internet. Salah satu situs yang mengembangkan latihan membaca adalah situs UPI Kampus Sumedang (http://kd-sumedang.upi.edu). Beberapa pengujian terbatas telah dilakukan di situs UPI Kampus Sumedang berkenaan dengan latihan dan tes membaca.


Gambar situs UPI Kampus Sumedang

Berkenaan dengan banyaknya teks di internet itu, adakah cara yang efisien untuk menguji pemahaman teks itu? Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah dengan menceritakan kembali atau mengomentari teks yang dibaca oleh pembelajar. Dengan begini pembelajar diminta menceritakan teks atau mengomentari teks yang ia baca. Pembelajar dapat melakukan proses menceritakan kembali atau mengomentari wacana dengan pengungkapan tertulis ataupun lisan. Cara lainnya adalah adalah dengan mengadministrasikan tes kepada para pembelajar (pembaca).

Kelebihan Pengajaran Membaca melalui Internet
Pembelajaran membaca di internet dapat dilakukan dengan asinkronus. Pembelajaran asinkronus ini memungkinkan pembelajar tidak bertatap muka dengan pengajarnya. Pembelajaran asinkronus ini juga berarti pembelajar melakukan aktifitas berinternet pada waktu yang berbeda dengan pengajar. Pengajar seolah-olah bertatap muka dengan pengajarnya padahal mereka bertatap muka dengan bahan-bahan atau serangkaian pekerjaan yang dibuat pengajarnya. Dengan begitu, pengajar berhadapan dengan mesin server komputer yang melayani segala permintaannya berkenaan dengan aktifitas yang relevan dengan pembelajaran membacanya.

Pada asesmen membaca melalui internet pembelajar dapat berulang-ulang melakukan latihan dan asesmen tanpa bertatap muka dengan pengajarnya (asinkronus). Pembelajar dapat melihat hasil latihan atau asesmennya secara instan. Dengan melihat hasil atau nilainya secara instan, pembelajar dapat memperbaiki atau mengulang latihan dan asesmennya sampai nilainya menjadi baik.

Beberapa bias yang mungkin terjadi di antaranya kemungkinan untuk bekerja sama di dalam mengerjakan latihan. Selain itu pengulangan latihan memungkinkan pembelajar untuk mengingat soal-soal dan wacana terdahulu. Dengan adanya kelemahan ini, pembelajaran membaca di kelas pun sangat penting sebagai basis dan alternatif dari pelajaran membaca melalui internet.

Langkah-langkah Pembelajaran Membaca di Internet
Pembelajaran membaca di internet yang diadministrasikan di situs UPI Kampus Sumedang dilakukan dengan beberapa langkah. Setiap langkah merupakan syarat bagi langkah berikutnya. Bila pembelajar akan melakukan tes wacana, maka terlebih dahulu pembelajar tentu harus membaca wacana dahulu. Sekalipun demikian, ada kalanya syarat ini tidaklah mutlak. Di dalam langkah pembelajaran di atas, terdapat langkah pengenalan model membaca top down sebagai bekal pemahaman teori membaca. Langkah ini dapat dilewati pembelajar bila pembelajar telah yakin bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang cukup ihwal model membaca top down. Langkah pembelajar ini dilakukan berdasarkan tampilan yang muncul di layar komputernya. Langkah pembelajaran itu adalah
1. memahami model membaca top down
2. mengisi forum tanggapan judul wacana
3. membaca wacana dalam waktu yang ditentukan
4. menjawab pertanyaan berdasarkan wacana
5. menghitung kemampuan membaca

Prinsip dasar dari pelajaran membaca adalah langkah (3) membaca wacana dan langkah (4) menjawab pertanyaan berdasarkan wacana. Dengan demikian langkah lainnya menjadi tidak terlalu wajib bagi pembelajar. Langkah yang tidak wajib di antaranya langkah (1) memahami model membaca top down, (2) mengisi forum tanggapan judul wacana, (5) menghitung kemampuan membaca merupakan langkah tambahan saja. Langkah tambahan ini dapat dilewat bila pembelajar telah memahami konsep konsep model membaca top down atau menghitung kemampuan membaca.

Menulis Di Blog Internet Sebagai Media Pembelajaran Menulis
Perkembangan menulis di internet menjadi tren baru yang dimulai pada pertengahan tahun 2000-an. Pada mulanya orang menulis di kertas dengan pensil dan bolpen. Kegiatan menulis berkembang sehingga orang menulis di mesin tik, di komputer dan kini orang menulis di dunia maya (di internet).

Perkembangan Menulis di Internet
Pada tahun 1980-an hingga akhir 1990-an media cetak (buku, koran, majalah) merupakan media yang mendominasi tulisan-tulisan publik yang dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat. Orang membaca gagasan-gagasan dari orang-orang besar dan berpengaruh di dalam pola kehidupan bermasyarakat. Seorang pejabat atau presiden akan mendominasi nada atau gaya tulisan dari suatu media massa. Orang yang berseberangan pendapat dengan pejabat atau presiden boleh jadi tidak mendapat tempat di media massa.

Di samping dominasi dari pemerintah, media massa pun mempunyai kriteria tersendiri yang menjadi syarat bagi penulis-penulis yang ingin tulisan-tulisannya dipublikasikan. Dominasi media cetak ini melahirkan raja-raja media yang memberikan izin bagi penulis untuk mempublikasikan karyanya. Walhasil, beberapa penulis yang termasuk kategori penulis yang baik ataupun yang ekstrem boleh jadi tidak bisa mempublikasikan karyanya sebelum raja dari media cetak itu memberikan izin baginya.

Kemunculan teknologi internet memberikan angin segar bagi tumbuhnya kreatifitas menulis bagi para penulis yang selama ini terganjal izin dari raja redaksi. Pada hari ini orang dapat dengan bebas menulis di internet. Bahkan tulisan yang ekstrem pun (tulisan kebencian, kekerasan, cabul atau antikemapanan) dapat dipublikasikan dengan bebas di internet. Beberapa penulis tergabung dalam suatu komunitas (network) untuk secara kreatif menulis dengan gaya, tema atau kesukaan yang sama.

Beberapa media di internet dapat digunakan oleh penulis untuk berparatisipasi mempublikasikan tulisannya. Seseorang dapat saja berkirim surat dengan tembusan (carbon copy) kepada e-mail-e-mail yang teman-teman penulis atau pembaca yang dikenalnya. Penggunaan e-mail ini dipermudah dengan adanya milis (mailing list) yang memungkinkan anggota dengan ketertarikan yang sama saling berkirim surat kepada setiap anggotanya. Bila milis yang diikuti seseorang adalah milis penulis puisi, ia dapat mengirimkan (mem-posting) puisi yang dibuatnya kepada seluruh anggota milis tersebut. Milis ini disebut pula dengan groups. Contoh milis yang ada di internet di antaranya yahoo groups (http://groups.yahoo.com), atau google groups (http://groups.google.com). Banyak orang bergabung dengan grup (milis) yang mempunyai ketertarikan yang sama dan aktif saling berkirim surat di dalam grup (milis) itu.

Selain milis, terdapat media lain di internet yaitu forum. Beberapa forum (disebut juga bulletin board) di internet terbuka bagi setiap orang untuk menjadi anggotanya. Contoh forum yang terbuka bagi setiap orang adalah Web Forum UPI (WFU, http://forum.upi.edu). Menurut salah seorang pengelolanya, filosofi yang mendasari WFU adalah pembelajaran. Dengan demikian, setiap orang yang menulis di WFU, diharapkan memberikan sumbangan terhadap tema-tema yang penting bagi pendidikan atau materi pelajarannya. Di samping itu, WFU relatif tidak mudah menutup topik (new topic) sehingga setiap orang dapat berbicara secara terbuka. Di samping ada forum yang terbuka, ada pula forum yang tertutup dan menutup topik yang ramai dibicarakan bila topik ini “tidak disukai” admin.

Di samping berbeda dengan media massa cetak (buku, koran, majalah), internet juga jauh berbeda dengan media massa elektronik (radio, televisi). Salah satu perbedaan internet dengan radio dan televisi adalah terbukanya pengguna (pemirsa) internet untuk berdialog atau mengajukan topik di internet. Mungkin saja radio dan televisi lebih lincah dalam berkomunikasi karena menggunakan komunikasi lisan bahkan audio visual, tetapi internet lebih terbuka sehingga memungkinkan lebih banyak pengguna (pemirsa) untuk berpartisipasi di dalam topik yang dibahas media massa itu.

Pada tahun 1970-an hingga tahun 1980-an, pemerintah Indonesia sangat gencar memasyarakatkan televisi sebagai media massa nasional. Saat itu televisi yang beroperasi di Indonesia hanya televisi pemerintah yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI). Sebagaian pengamat barat dan timur menganggap bahwa TVRI hanya menjadi corong “propaganda” pemerintah. Sekalipun demikian, masyarakat menganggap bahwa manfaat televisi sebagai sarana hiburan dan pengetahuan (berita) saat itu sangatlah penting. Dengan begitu orang lebih menyukai televisi daripada surat kabar.

Pada tahun 2000-an ini, pemerintah mulai melirik pada pemasyarakatan internet sampai ke pelosok desa. Hal ini terlihat dari iklan layanan masyarakat tentang pemasyarakatan internet di televisi. Pemasyarakatan internet ini sangat penting karena administrasi penduduk yang dahulu manual dan berbasis kertas, kini beralih menjadi basis data elektronik. Dengan demikian, seseorang yang mempunyai domisili penduduk di suatu tempat pada hari ini akan sukar untuk mempunyai domisili ganda karena sistem database administrasi penduduk yang terintegrasi.

Kendala dari pemasyarakatan internet ini adalah kesiapan masyarakat untuk menerima internet di dalam administrasi pemerintahannya. Siapkah kecamatan menerima internet? Adakah orang-orang yang mampu mengoperasikan internet? Kota Bandung mungkin saja sudah mempersiapkan kecamatan-kecamatan di wilayahnya menggunakan teknologi internet. Tetapi beberapa kabupaten di Jawa Barat masih merangkak untuk mencoba tertatih-tatih berjalan menggunakan internet.

Hari ini pembelajar-pembelajar di perguruan tinggi mulai diperkenalkan dengan internet dengan jumlah database yang terus berkembang. Jumlah database yang berkembang berarti semakin banyak file atau berkas yang diposting di komputer pelayan (server) untuk digunakan oleh sebanyak mungkin komputer pengguna (client). Pemetaan situs pun semakin kompleks dengan dibangunnya alamat-alamat situs anak. Menurut sebuah sumber dari Web Forum UPI (informasi ini dapat diakses secara online di alamat http://www.webometrics.info/Webometrics%20library/AsiaPacific%20jan08.pdf dan alamat http://www.webometrics.info/rank_by_country.asp?country=id) yang diambil dari Web Forum UPI (http://forum.upi.edu/v3/index.php?topic=5586.0) diungkapkan bahwa salah satu penentu ranking universitas di dunia maya adalah ukuran database. “Size represented the number of web pages contained in domain. Visibility includes the number of external interlinks to the web domain. Rich files is the number of pdf, doc, ps and ppt hosted in a domain. Scholar relates to the records appearing under the institutional domain of the university using the Google Scholar search engine.”

Tabel ranking itu (file *.pdf) seperti terlihat di internet kurang lebih ialah sebagai berikut.

RR WR NAME CO SIZE VISI RICH SCH
1 47 AUSTRALIAN NATIONAL UNIVERSITY au 72 56 92 52
2 61 UNIVERSITY OF TOKYO jp 54 122 66 14
3 73 NATIONAL TAIWAN UNIVERSITY tw 58 165 65 13
Dst.
Tabel ini selengkapnya terdiri atas dua halaman file acrobat (pdf).

Ranking suatu universitas di dunia internet didasarkan pada Webometics Ranking of World Universities. Ranking berdasarkan Webometics itu berarti jumlah halaman yang terdapat di dalam domain (number of web pages contained in domain) yang pada tabel di atas ditunjukkan dengan kolom SIZE, jumlah eksternal interlink dari domain web (number of external interlinks to the web domain) yang pada tabel di atas ditunjukkan dengan kolom VISI, jumlah file pdf (Adobe Acrobat), doc (Microsoft Word), ps (PostScript format seperti untuk mencetak), dan ppt (Microsoft PowerPoint). Sedangkan RR menunjukkan ranking regional (regional ranking), WR menunujukkan ranking dunia (world ranking).

Situs UPI sendiri (http://www.upi.edu) mempunyai situs-situs lainnya seperti situs FPMIPA (http://fpmipa.upi.edu), FPTK (http://fptk.upi.edu), situs Jurusan Pendidikan Matematika UPI (http://matematika.upi.edu), situs Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI (indonesia.upi.edu), Sekolah Pascasarjana (http://sps.upi.edu). Situs sekolah pascasarjana ini pun merupakan situs yang memiliki link ke setiap program studi pada program pascasarjana.

Perguruan tinggi negeri di Jawa Barat, misalnya, telah mengembangkan internet dengan membangun jaringan (network) yang besar untuk institusinya. Di antara program studi yang ada di UPI, ada yang memasukkan internet dan komputer di dalam kurikulumnya. Adanya kurikulum ini akan memaksa pembelajar untuk mengembangkan diri berkenaan dengan pengetahuan teknologi informasinya. Dengan demikian, perkembangan pengetahuan pembelajar berkenaan dengan internet akan berkembang sedepa demi sedepa. Mahasiswa di perguruan tinggi yang dipersiapkan untuk mengerti sedikit banyak tentang internet menjadi harapan bagi administrasi internet di pelosok-pelosok daerah. Selain kecamatan, sekolah pun diharapkan menjadi salah satu pelopor perkembangan internet. Harapan masyarakat bergantung pada perkembangan pendidikan di masa kini untuk menjadi batu loncatan raihan gemilang di masa depan.

Blog di Internet
Pada hari ini penulis dapat mempublikasikan (mem-posting) gagasannya di internet. Alamat-alamat blog yang ada di internet misalnya blogger (http://www.blogger.com), wordpress (http://www.wordpress.com), typepad (http://www.typepad.com), atau blogware (http://home.blogware.com). Sebuah blog bisa juga terintegrasi dengan situs-situs sosial seperti friendster (www.friendster.com), multiply (www.multiply.com) atau orkut (www.orkut.com).

Blog sedikit berbeda dengan situs sosial seperti friendster, multiply atau orkut. Sekalipun demikian, lebih lanjut, situs sosial ini pun membuka blog bagi para penggunanya. Situs blog merupakan situs yang berbasis penulisan artikel. Foto, gambar dan video yang mungkin muncul merupakan pelengkap dari teks yang ditampilkan. Hal ini berbeda dengan situs sosial karena situs sosial basis utamanya adalah profil dari pengguna dengan menampilkan informasi mengenai pengguna, foto, dan sejumlah teman yang dikenalnya melalui situs sosial itu.

Pada hari ini banyak sekali penulis yang terjun di dunia blog seperti Agus Sarjono (agussarjono.wordpress.com), Joko Pinurbo (celanasenja.blogspot.com), Seno Gumira Ajidarma (sukab.wordpress.com), Bambang Q. Anees (metafalsafah.wordpress.com), Hasan Aspahani (sejuta-puisi.blogspot.com), Hermawan Aksan (hermawan-aksan.blogspot.com), Kurnia Effendi (sepanjangbraga.blogspot.com), Farid Gaban (fgaban.blogspot.com). Blog yang memuat gambar-gambar lucu dan kering contohnya pada alamat http://garingpisan-euy.blogspot.com.

Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad sendiri mempunyai blog dan menyempatkan beberapa jam dalam hari-harinya untuk mengerjakan sesuatu dengan blognya. Alamat blog Presiden Ahmadinejad adalah http://ahmadinejad.ir yang memiliki shoutbox agar pengunjung yang mampir dapat mengirimkan pesan. Di dalam blog itu sendiri terdapat tulisan-tulisan Ahmadinejad dan tanggapan Ahmadinejad terhadap surat pembacanya.

Di beberapa negara di luar negeri blog dapat diakses dengan telepon selular. Dengan demikian, seorang pemilik blog dapat membaca, mengetik, mengedit dan mempublikasikan tulisannya di blog melalui telepon selular. Di Indonesia, penggunaan telepon selular untuk mengakses blog tertentu (blogger) tidak disediakan.

Pada hari ini ribuan blog yang dibangun di internet (bahkan blog berbahasa Indonesia) mengusung banyak tema, mulai dari tulisan amatir, puisi, prosa, sastra, falsafah, foto-foto, foto-foto artis, berita, artikel hingga penelitian ilmiah. Ada ibu rumah tangga yang senang pada masakan membuat blog berkenaan dengan masakan-masakan yang dikuasainya. Ada seseorang yang memberi perhatian pada buah-buahan dan tanaman mengembangkan blog berkenaan dengan pendidikan. Ada seseorang yang memberi perhatian pada pendidikan (homeschooling, pendidikan luar sekolah) mengembangkan blog berkenaan dengan pendidikan. Begitu banyak orang yang tertarik pada blog dan mengembangkan blog yang dimilikinya.

Tentu saja selain tulisan-tulisan berupa artikel, blog juga dibuat untuk mempublikasikan berita-berita. Berita-berita di timur tengah beserta fotonya muncul di sejumlah blog.

Falsafah menulis di blog adalah menulis tanpa ada honor. Dengan demikian, muncul pertanyaan, mengapa penulis-penulis besar bersedia menulis di blog? Salah satu jawaban yang memungkinkan ialah pada hari ini orang-orang ingin didengar. Orang tidak hanya ingin mendengar pembicaraan orang lain atau membaca tulisan orang lain. Bila gagasannya didengar dan dikembangkan, hal itu sudah menjadi salah satu sumbangan kesenangan bagi penulisnya.

Bila melihat falsafah di atas, mengapa seorang penulis amatir tidak mulai menulis dan membangun komunitas di internet? Bila seseorang senang pada cerita-cerita romantis, mengapa ia tidak membangun komunitas itu di internet? Bila seseorang senang pada puisi-puisi kepahlawanan, mengapa ia tidak membangun komunitas itu di internet? Bila seseorang senang pada penelitian ilmiah, mengapa ia tidak membangun komunitas itu di internet?

Sekalipun menulis di blog bisa dikatakan tidak menjanjikan honor, aktifitas di blog bisa saja menghasilkan uang. Salah satu cara menghasilkan uang dengan blog adalah dengan menjual blog setelah harganya ditaksir tinggi. Harga yang tinggi ditentukan salah satunya oleh besarnya data yang ada di dalamnya serta banyaknya pengunjung yang berminat untuk mampir dan membaca blog tersebut. Dengan adanya penjualan blog itu, timbul spekulasi karena akhirnya blog itu beralih kememilikan. Menurut sebagian orang, jika blog sudah mahal dan ada yang berminat membelinya, mengapa tidak dijual saja dan pemiliknya membuat blog baru untuk dibangunnya lagi.

Aktifitas blog lainnya yang menghasilkan uang adalah memasukkan iklan di dalam blog. Artikel yang memuat penggunaan iklan di dalam blog ialah artikel tentang Google Adsense (http://ilmukomputer.com). Beberapa pengguna blog telah merasakan kesuksesan blog mereka karena seluruh dunia mengakses blog mereka dan menggunakan (mengklik) iklan mereka. Blog yang dibaca orang di seluruh dunia tentu harus berbahasa Inggris atau setidaknya memuat artikel berbahasa Inggris.

Jadi begitu banyak potensi yang dapat dikembangkan seseorang, pengajar atau pembelajar dengan membuat blog. Mengapa Anda tidak membuat blog sejak sekarang?

Membuat blog di internet begitu mudahnya sehingga tidak ada kursus yang diselenggarkan untuk itu. Pengguna biasanya hanya dituntut untuk terbiasa saja dalam membuat dan menggunakan blog. Selanjutnya pengguna tinggal mengikuti arahan dari website saja untuk menyelesaikan pembuatan blognya. Sekalipun demikian, ada pula kasus pembelajar yang mengalami kesulitan dalam membuat blog.

Kelemahan Internet sebagai Media Menulis
Salah satu kelemahan yang bisa bisa menjadi kendala yang besar dalam pembelajaran menulis di internet adalah adanya kemungkinan setiap orang dapat mempublikasikan tulisannya di internet tanpa ada pertimbangan atau masukan dari orang lain. Dengan begitu, bisa saja tulisan yang dibuat oleh penulis kurang layak bagi sebuah artikel yang baik. Hal ini terbukti dengan adanya blog-blog pribadi yang memuat tulisan yang kurang layak. Gejala kurang layak atau kurang pantas bagi tulisan mungkin saja menunjukkan tingkat pendidikan penulisnya. Bila si penulis merupakan seorang guru bahasa, ahli komunikasi atau guru besar, tulisannya mungkin akan bagus dan menarik. Sebaliknya bila tulisan itu dibuat oleh seseorang yang awam, boleh jadi pembaca kurang tertarik dengan judul, gambar-gambar maupun isi tulisan itu.

Pada titik ini, blog merupakan potensi yang sangat besar sebagai media pembelajaran di internet. Pembelajar dapat belajar menulis dengan media elektronik dan bukan media kertas. Permasalahan yang muncul di sini ialah adakah pengajar yang dapat membimbing pembelajar dalam menulis di blog (internet)? Jika pengajar dapat membimbing pembelajar, bagaimanakah caranya? Permasalahan ini akan dibahas di bagian lain di dalam tulisan ini.

Beberapa forum (disebut juga bulletin board) di internet terbuka bagi setiap orang untuk menjadi anggotanya. Forum-forum ekstrem seperti pornografi justru sangat ketat dalam menjaring anggotanya karena banyak anggota yang “tidak loyal” dengan mempublikasikan (mem-posting) tulisan seenaknya, dengan bahasa yang “serampangan”. Di samping itu keanggotaan mereka bisa saja tidak permanen sehingga mereka melupakan nama pengguna (username) dan sandi (password) dari forum-forum itu. Tak jarang pengelola atau admin dari forum ekstrem itu “rajin” menghapus (ban) anggota yang “tak loyal”.

Kelemahan lainnya adalah kemungkinan pengguna internet menulis dengan bahasa yang buruk. Bahkan sangat ekstrem. Hal ini mungkin saja mengingat para penulis di internet tidak jarang yang menggunakan nama-nama aneh seperti Batman, Spongebob, malaikat, jin (setan atau iblis); atau nama apapun yang disukai penulisnya. Contoh nama-nama aneh yang muncul di internet dapat dilihat di WFU (Web Forum UPI, http://forum.upi.edu).

Di dalam pembuatan blog terdapat pula beberapa masalah yang kadang-kadang muncul. Ada kasus pembelajar yang mengalami kesulitan dalam membuat blog. Hal ini lebih disebabkan oleh sikap tertutup dari pembelajar itu dan tak mau bekerja sama dengan teman. Berinternet seorang diri tak jarang memunculkan beberapa gejala buruk seperti stres, tak mampu berhenti berinternet, dan kehilangan kesadaran dengan dunia nyata. Salah satu caranya adalah dengan berinternet bersama teman. Dengan demikian kesukaran-kesukaran kecil yang mungkin dihadapi di depan internet akan menjadi tidak berarti.

Kesulitan lainnya adalah perlunya penggunaan bahasa Inggris sebagai tahap awal dari pembuatan blog. Beberapa pembelajar yang tidak begitu paham bahasa Inggris akan mengalami hambatan bahasa. Di samping itu ketika pembelajar melakukan kegiatan berinternet tidak bersama teman, ia akan cenderung stres dengan kegagalan yang dialaminya.

Beberapa akibat yang ditengarai muncul dari ketidakpahaman akan bahasa Inggris di antaranya adalah lupa pada nama pengguna (username) dan sandi (password). Di samping itu ada pula pengguna yang meninggalkan komputer dalam keadaan masih log in sehingga pengguna selanjutnya dapat mempublikasikan artikel yang tak bertanggung jawab bahkan mengganti sandi (password) penggunanya.

Pembelajaran Menulis di Internet
Pembelajaran menulis melalui internet dapat dilakukan dengan blog yang tersedia gratis di internet. Blog kini telah merambah dunia maya dan membawa penggunanya pada teknologi informasi yang sangat fantastis. Pengguna Blog dapat menuliskan gagasan-gagasannya tanpa menunggu media massa (mengizinkan) memuat tulisannya.

Di dalam pembelajaran, penggunaan blog dapat dilakukan salah satunya untuk mempublikasikan tugas-tugas. Salah satu hal yang mendorong digunakannya blog adalah permintaan pembelajar sendiri untuk mengenal blog dan menggunakan internet.

Selain blog sebenarnya pengguna internet dapat menulis di forum, buletin board, milis atau grup. Sekalipun demikian, kebanyakan forum itu menuntut penggunanya untuk teregistrasi dulu sebagai anggota. Dengan demikian, seseorang yang akan menulis mesti menjadi anggota dan tetap mengikuti perkembangan milis itu.

Melalui blog itu setiap orang (atau pembelajar) dapat menulis hal-hal yang diinginkannya. Banyak pengguna blog (blogger) yang menulis puisi, artikel, bahkan tidak sedikit yang menggunakan blog sebagai buku hariannya. Dengan demikian tulisan yang ada di blog tidak selamanya menggunakan bahasa yang baku.

Beberapa langkah yang mesti dilakukan pengajar untuk menggunakan blog sebagai media pengajaran di internet ialah sebagai berikut. Yang pertama, pengajar seyogyanya mempunyai blog pribadi yang dapat dikunjungi oleh pembelajarnya. Blog pengajar ini bukan hanya bermanfaat untuk dikunjungi dan dibaca pembelajar saja. Blog pengajar ini pun dapat dijadikan sebagai media komunikasi agar pengajar mengetahui blog-blog para pembelajarnya. Contoh blog pengajar yang ada di alamat http://jurnal-sastra.blogspot.com adalah sebagai berikut.



Langkah kedua adalah menugasi pembelajar membuat blog pribadinya dan menulis artikel di blog pribadinya itu. Pembelajar dapat menulis dengan tema yang ditentukan oleh pengajar atau tema yang ditentukan oleh pembelajar sendiri. Tulisan yang ditugaskan kepada pembelajar boleh berupa tulisan ilmiah maupun sastra. Pada blog (blogger) terdapat label yang memungkinkan pembelajar mencantumkan label sastra, ilmiah, atau tugas. Misalkan pengajar menugasi pembelajar membuat label ilmiah dengan tugas membuat tanggapan terhadap variasi pola kalimat atau tanggapan atas perkuliahan model membaca bottom up, top down, interactive.

Biasanya bila pembelajar diberi waktu seminggu maka pembelajar mempunyai cukup waktu untuk membuat sebuah artikel. Dalam beberapa minggu pun pembelajar cenderung hanya menulis satu atau dua artikel saja. Jumlah ini (satu atau dua artikel) cukup bagi pengajar. Jumlah paragraf yang ditulis oleh pembelajar pun tak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit. Jumlah yang relatif cukup ialah kurang lebih tiga sampai lima paragraf.

Bila pembelajar membuat banyak artikel dengan banyak label, pengajar akan kesulitan dalam mengelola dan memeriksa blog para pembelajarnya. Pemeriksaan tugas yang mungkin dilakukan pertama kali dan yang cukup penting adalah pemeriksaan ejaan. Dengan pemeriksaan ini pengajar mesti membaca dengan seksama terhadap tugas-tugas yang masuk dan membuat perbaikan pada komentarnya (post a comment pada blogger).

Perlu diingat bahwa panjang tulisan mesti cukup dan tidak terlalu pendek atau tidak terlalu panjang. Tulisan yang panjang menyulitkan pengajar di dalam memeriksa. Tulisan yang pendek tidak cukup baik untuk menilai kemampuan menulis pembelajar. Dengan panjang tulisan yang cukup, pengajar tidak terlalu sibuk atau pengajar tidak dapat menilai karena tulisan pembelajar terlalu minim.

Langkah ketiga adalah menugasi pembelajar menanggapi tulisan di blog pengajar. Dengan langkah ketiga ini pengajar dapat mengetahui alamat blog para pembelajarnya. Langkah ketiga ini dapat diganti dengan memberikan pesan (offline messages) di media pengirim pesan (messenger). Langkah keempat adalah pengajar melakukan asesmen terhadap tulisan pembelajar. Pada contoh http://jurnal-sastra.blogspot.com pengajar dapat mengisi shoutbox untuk memberitahu alamat blognya atau menanggapi tulisan atau puisi yang ditulis oleh pengajar.

Pengajar mengumumkan blog yang dimilikinya untuk ditanggapi dan dipelajari pembelajar. Selanjutnya pembelajar dapat membuat artikel di blognya sendiri. Pembelajar dapat menginformasikan tulisannya dengan menanggapi tulisan pengajar. Melalui komentar di blog atau pun melalui shoutbox (atau dikenal juga dengan tag board), pembelajar berkomunikasi dengan pengajarnya. Dengan demikian, pengajar dapat mengevaluasi tulisan pembelajar.

Langkah keempat adalah pengajar mengunjungi blog pembelajar memeriksa tulisan (tugas) pembelajar yang ada di dalamnya. Pada tahap ini pengajar mesti melakukan penandaan pada daftar presensi pembelajar. Pembelajar dapat menandai kolom (1) pembelajar telah membuat blog, (2) pembelajar telah menulis di blog, (3) tulisan di blog telah diperiksa, (4) tulisan memiliki kesalahan, (5) tulisan di blog telah diperbaiki blog. Daftar presensi itu kurang lebih sebagai berikut.

No. Nama Telah membuat blog Telah menulis di blog Tulisan telah diperiksa Tulisan memiliki kesalahan Tulisan telah diperbaiki Nilai
1. Final Youlan √ √ √ √ √ 8
2. Yulianti √ √ √ √ 7
3. Iis Mutia √ √ √ -- 9
4. Ade Nuroni √
5. Irfan Hakim

Dari tabel di atas, paling tidak pengajar mengunjungi blog pengajar sebanyak dua kali. Pertama pengajar mengunjungi blog pembelajar untuk dapat menentukan ceklis pada kolom (1), (2), (3), dan (4). Kedua pengajar mengunjungi blog pembelajar untuk melihat perbaikan tulisan pembelajar (kolom 5). Pada contoh tabel di atas terlihat bahwa Final Youlan telah membuat blog, telah menulis di blog, telah diperiksa, dan diketahui memiliki kesalahan, tulisannya pun telah diperbaiki. Yulianti terlihat belum diperbaiki. Iis Mutia terlihat tidak memiliki kesalahan di dalam tulisannya sehingga tak perlu untuk diperbaiki. Ade Nuroni baru membuat blog sedangkan Irfan Hakim sama sekali belum membuat blog. Ade dan Irfan belum mendapat nilai karena mereka belum membuat tulisan sama sekali, sekalipun Ade telah memiliki blog.

Ketika pengajar memeriksa blog pembelajar, pengajar mesti mengoreksi kesalahan-kesalahan pembelajar jika ada. Dengan demikian, pengajar mengirimkan komentar (post a comment di dalam blogger) berisi kesalahan-kesalahan pembelajar. Koreksi ini diharapkan efektif untuk membuat pembelajar dapat menghindari kesalahan yang sama atau melakukan studi tentang kesalahan yang dibuatnya. Pengajar pun di dalam komentarnya menyarankan pengajar agar membuka blog teman-temannya dan membaca komentar yang ada di dalamnya agar mengetahui kesalahan yang mesti dihindarinya.

Contoh publikasi komentar di blog adalah sebagai berikut.



Gambar pertama adalah artikel pembelajar berupa tanggapan dari materi perkuliahan dan gambar berikutnya adalah komentar atau penilaian dari pengajar.

Selesai memberi komentar pada blog pembelajar, pengajar mesti menandai nama pembelajar yang ada di dalam presensi. Hal ini penting agar pembelajar yang mengerjakan blog dan mempunyai sedikit kesalahan berbeda nilainya dengan pembelajar yang belum mengerjakan blog dan mempunyai banyak kesalahan. Di samping itu penandaan di dalam presensi akan memudahkan pemeriksaan bila nanti ada pembelajar yang (secara tidak sengaja) menghapus komentar atau penilaian tulisan di blognya.

Pengajar biasanya memeriksa ejaan karena di dalam kasus yang didapat selama ini kesalahan ejaan adalah kesalahan yang paling banyak muncul. Pengajar pun mesti memberikan komentar pada setiap blog pembelajar. Dengan demikian, tulisan pembelajar benar-benar diperiksa.

Tulisan pembelajar dinilai dari baik dan benarnya bahasa yang digunakan. Pembelajar mesti menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baik dan benar dengan ragam baku dipilih karena bahasa yang demikianlah yang digunakan di dalam dunia akademis. Bahasa baku merupakan bahasa yang berprestise tinggi karena penggunanya akan dikenal sebagai seorang yang terpelajar.

Setelah pembelajar membuat atau menulis tugasnya di blog, pembelajar dapat membuka blognya sendiri untuk memeriksa kemungkinan tulisan pembelajar itu telah diperiksa dan menuntut pembelajar untuk memperbaikinya. Pengajar pun dapat memerintahkan pembelajar untuk saling melihat blog kawannya sendiri dan melihat komentar yang ada di dalamnya. Dengan melihat blog temannya sendiri, seseorang dapat belajar dari kesalahan yang dibuat temannya dan mencegahnya untuk melakukan kesalahan yang sama.

Pembelajar yang tidak membuka blognya sendiri tidak akan tahu apakah tugasnya telah diperiksa atau dinilai. Mungkin saja ada pembelajar yang membuka blognya tetapi mendapati tulisannya belum diperiksa (belum ada komentar). Karena itu bagi pembelajar, kegiatan mengunjungi blog boleh jadi merupakan kegiatan yang rutin di dalam berinternet untuk memaksimalkan proses belajar mengajar menulisnya.

Di dalam pelajaran ini pembelajar diminta untuk menulis di blog dengan menggunakan bahasa yang baku. Pengajar justru akan menanggapi tulisan berdasarkan kaidah kebahasaannya. Mungkin saja ada pengguna blog yang menggunkan bahasa yang tidak baku ketika menuliskan blognya. Sekalipun demikian penggunaan bahasa baku menunjukkan keterpelajaran penulis blog itu.

Penggunaan blog ini sangat efektif untuk memotivasi pembelajar menulis artikelnya. Selain itu artikel yang ditulis pembelajar dapat dilihat oleh pembelajar lain dan orang lain. Pembelajaran menulis melalui blog memungkinkan pengajar memperbaiki kesalahan pembelajar. Di samping itu, pembelajar dapat melihat blog teman-temannya dan memperhatikan kesalahan kebahasaan yang dibuat. Dengan demikian, pembelajar belajar dari kesalahan temannya.

Beberapa Evaluasi berkenaan dengan Pembelajaran Menulis melalui Blog
Setelah mengikuti perkembangan pelajaran menulis melalui blog. Dapatlah diperoleh beberapa evaluasi yang dapat dipertimbangkan dari kelebihan dan kekurangan menulis di blog ini. Salah satu kelemahan pembelajaran melalui internet ialah kemungkinan dilakukannya perintah copy-paste bagi pembelajar yang enggan menulis. Peristiwa copy-paste ini pernah terjadi dan mengakibatkan penggunanya dimasukkan ke dalam daftar hitam (black list, banned). Peristiwa copy-paste mesti dijadikan pelajaran bagi para pembelajar agar pembelajar tidak melakukannya lagi baik selama studi maupun setelah menyelesaikan studi. Latihan ini sesungguhnya memungkinkan tulisan pembelajar untuk dievaluasi sampai pembelajar itu menulis penelitian (skripsi) ataupun sampai pembelajar telah lulus.

Istilah copy-paste digunakan untuk aktivitas menjiplak tulisan orang lain. Media internet memungkinkan pengguna internet untuk mencari teks dan mendapatkannya dengan cuma-cuma. Dari copy-paste ini juga seseorang dapat melihat karya tulis lainnya untuk sedikit dikembangkan atau diubah. Beberapa tulisan terlihat mempunyai kemiripan yang ekstrem, yang menyedihkan dari segi kreatifitas. Kemungkinan kelemahan pembelajaran ini adalah gagap teknologi.

Kelemahan lainnya di dalam pembelajaran menulis melalui blog ini adalah peristiwa gagap teknologi. Gagap teknologi merupakan perilaku pembelajar yang tak bisa menggunakan internet. Hal ini terjadi bisa saja karena blog bagi pembelajar adalah pengetahuan yang baru. Peristiwa gagap teknologi ini pula yang mengakibatkan sebagian panjang tulisan pembelajar sangat pendek. Tulisan yang pendek mencerminkan kerdilnya kreatifitas yang mungkin disebabkan salah satunya oleh gagap teknologi di atas.

Daftar Pustaka
Alwasilah, A.C.; S.S. Alwasilah (2005) Pokoknya Menulis: Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Arikunto, S. (1999) Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Bachman, L.F. (1990) Fundamental Considerations in Language Testing. Oxford: Oxford University Press.
Damaianti, V.S. (2001) Strategi Volisional melalui Dramatisasi dalam Bidang Pendidikan Membaca. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Hardjasudjana, A.S. (dkk) (tanpa tahun) Materi Pokok Membaca. Jakarta: Penerbit Karunika Jakarta-Universitas Terbuka.
Hardjasudjana, A.S.; V.S. Damaianti (2003) Membaca dalam Teori dan Praktik. Bandung: Mutiara.
http://jurnal-sastra.blogspot.com
http://kd-sumedang.upi.edu
http://moodle.org
Iswara, P.D. (2008) Model Membaca Top Down berbasis Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman. Naskah Disertasi pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung.
McCutchen, D. (2003) Psychology of Reading. tersedia online di alamat http://education.washington.edu/areas/ep/courses/syllabi/EDPSY520Spr03.ppt & http://education.washington.edu/areas/ep/courses/syllabi/EDPSY520Wtr05.pdf
McMillan, J.H; S. Schumacher (1989) Research in Education: A Conceptual Introduction (2nd edition). Virginia: Harper Collins.
Moeliono, A. dkk (1998) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Nurgiyantoro, B. (1988) Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Nurhadi (2004) Membaca Cepat dan Efektif (Teori dan Latihan). Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Tampubolon, D.P. (1990) Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efetif dan Efisien. Bandung: Angkasa.
Tarigan, H.G. (1983) Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Van Dalen, D.B. (1962) Understanding Educational Research. New York: McGraw-Hill.

Monday, February 23, 2009

Penelitian VARIASI POLA KALIMAT BAHASA INDONESIA DAN KETERBACAANNYA DI SMA KORPRI / LABSCHOOL UPI BANDUNG

PENELITIAN VARIASI POLA KALIMAT BAHASA INDONESIA DAN KETERBACAANNYA DI SMA KORPRI / LABSCHOOL UPI BANDUNG

Latar Belakang
Sejumlah materi penting pembelajaran kalimat dalam pertimbangan standar kompetensi mesti dikuasai pembelajar bahasa. Beberapa materi itu diperas dari kompetensi kebahasaan yang mesti dikuasai pembelajar; di antaranya (1) penguasaan kalimat aktif-pasif, (2) penguasaan kalimat berdasarkkan kategori predikat, (3) penguasaan pola kalimat, (4) kalimat majemuk.

Penguasaan (mastery) pelajaran kalimat berdasar pada keempat pembagian di atas menjadi sangat ampuh untuk memahami bahasa Indonesia. Tentu saja penguasaan itu bukan tanpa syarat dan tanpa kekurangan karena penguasaan morfologi menjadi syarat pemahaman pelajaran kalimat dan penguasaan semantik menjadi pelengkap bagi penguasaan kalimat itu.

Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), kampus Sumedang adalah bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia yang merupakan lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). Program PGSD sesuai namanya merupakan institusi yang bertugas menelurkan pengajar di tingkat sekolah dasar. Dari segi jenjang, program PGSD selama ini menelurkan lulusan ahli muda (diploma dua) sesuai dengan kebutuhan pengajar di sekolah dasar dan mulai tahun 2006 ditingkatkan menjadi asisten ahli madya (sarjana strata satu) untuk meningkatkan kualitasnya.

Penguasaan kalimat yang diajarkan di kampus Sumedang merupakan pelajaran yang relevan dengan uraian Badudu (1990) dan Ramlan (1981). Chomsky (dalam Chaer, 1994) mengungkapkan bahwa tata bahasa memang dikembangkan untuk membantu pembelajar memahai bahasa. Demikianlah falsafah bahasa yang sejak dahulu berkembang di tangan Plato dan Aristoteles. Tata bahasa dikembangkan untuk memudahkan pembelajar dalam memahami bahasa.

Penguasaan kalimat bagi pengajar di sekolah dasar merupakan penguasaan yang penting untuk dimiliki. Penguasaan kalimat merupakan salah satu standar kompeteni pembelajar. Di setiap tingkat pengajaran kaimat disampaikan sesuai dengan taraf perkembangan pembelajarnya. Acap kali kurangnya kemampuan penguasaan kalimat menjadi penyebab rusaknya “pemahaman” pembelajar berkenaan dengan bahasa Indonesia. Lebih lanjut pengaruh rusaknya “pemahaman” pembelajar itu berdampak pada keterampilan lainnya seperti berbicara dan menulis. Dengan kata lain, pemahaman kalimat akan membantu pengajar menyampaikan materi di kelas rendah dan di kelas tinggi.

Masalah
Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua taraf. Taraf pertama berkenaan dengan tingkat hubungan antara pengujian kalimat dengan teknik klos dan pemahaman pola. Dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) pengujian kalimat dengan teknik klos dan (2) pengujian pemahaman pola. Taraf kedua penelitian variasi pola kalimat ini berkenaan dengan teknik pengajaran kalimat di PGSD UPI Kampus Sumedang. Dengan kata lain, penelitian taraf kedua ini berkenaan dengan efektifitas pengajaran kalimat dengan materi-materi tertentu.

Metode
Metode penelitian yang digunakan terdiri atas dua bagian. Kedua metode ini dilakukan karena penelitian ini mengalami dua tahap dari dua waktu dan tempat yang berbeda. Tujuan penelitian kedua penelitian ini berbeda sekalipun materi pembelajarannya sama yaitu pembelajaran kalimat. Pada penelitian yang pertama, digunakan teknik korelasi untuk mengetahui hubungan antara tes klos wacana dengan tes pemahaman pola kalimat. Pada penelitian yang kedua, digunakan penelitian tindakan kelas yang relevan dalam membenahi pengajaran-pengajaran kalimat di kelas. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan taraf keberhasilan pengajaran kalimat di kelas dengan mengidentifikasi dan meredusi kekurangan-kekurangannya.

Kalimat dalam Tinjauan Pustaka
Penelitian terdahulu berkenaan dengan kalimat cukup melimpah. Sumber-sumber rujukan berkenaan dengan kalimat (sintaksis) pun menunjukkan perkembangan yang pesat dari penelitian kalimat. Sumber-sumber rujukan yang menguraikan pola kalimat, di antaranya Moeliono (1988), Parera (1988), Wojowasito (1976), Badudu (1990), dan Ramlan (1981). Dalam pembahasannya, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda berkenaan dengan pola kalimat. Dengan demikian, diperlukan kecermatan untuk membedakan dan argumentasi yang mendasar agar penentuan pola kalimat yang menjadi dasar pembahasan dalam penelitian ini dapat diterima.

Moeliono (1988) mengungkapkan satu istilah yang menarik sebagai bagian dari rujukan untuk penelitian ini. Moeliono mengungkapkan istilah pola dasar kalimat inti. Istilah pola dasar kalimat inti ini berbeda dengan yang diungkap Badudu (1990).

Dalam memahami materi kalimat, terdapat beberapa syarat yang mesti dikuasai pembelajar di antaranya penguasaan kategori kata (kelas kata). Pembahasan kelas kata lebih banyak diperoleh pada materi morfologi. Pembahasan kalimat berdasarkan kategori kata pun di bahas oleh Badudu (1990), Chaer (1994) juga Kridalaksana (1994).

Pembahasan kalimat yang diuraikan para pakar mendorong kemungkinan pengembangan penelitian kalimat. Berdasarkan pembahasan dalam kajian pustaka inilah penelitian ini dilanjutkan.

Hasil Penelitian
Pada penelitian tahap pertama, pengujian kalimat dengan teknik klos mempunyai hubungan yang signifikan sebesar r = 0,5183 dengan pemahaman pola. Nilai hubungan sebesar r = 0,5183 berarti bahwa hubungan antara dua variabel (teknik klos dan pemahaman pola). Melalui penelitian ini pula diperoleh sejumlah varian dari delapan pola dasar Badudu (1990).

Hasil penelitian lainnya diperoleh dari penelitian hatap dua yaitu berupa (1) pengajaran kalimat aktif-pasif, (2) pengajaran kalimat berdasarkan kategori predikat, (3) pengajaran pola kalimat, dan (4) pengajaran kalimat majemuk. Berikut ini adalah penjelasan hasil penelitian itu.

Kalimat Aktif-Pasif
Pembahasan kalimat aktif-pasif akan berkaitan dengan verba dan verba transitif. Dalam pembahasan kalimat aktif akan berhubungan dengan objek karena objek berkaitan dengan verba transitif. Berikut ini pembahasan ringkas berkenaan dengan hasil temuan pengajaran kalimat aktif-pasif.

No. Aktif Pasif
1. Ia minum susu. Susu diminum olehnya.
Susu diminumnya.
2. Saya membeli buku. Buku dibeli oleh saya.
Buku saya beli.
3. Kami mencari mereka. Mereka dicari (oleh) kami.
Mereka kami cari.
4. Mereka mendapati kami. Kami didapati (oleh) mereka.

Kalimat Berdasarkan Kategori Kata
Pembahasan ringkas dari Chaer (1994) dan Parera (1988: 10) yang menguraikan kalimat berdasarkan kategori kata. Parera (1988: 10) menentukan ada lima pola dasar kalimat inti sebagai berikut.

No. Pola Contoh Kalimat
1. NP + NP Bapa bidan.
Babi binatang.
Bibi babu.
Beta buruh.
2. NP + AP Bandung sunyi.
Bajunya sempit.
Bartol sakit.
3. NP + VP Kakak berbaring.
Petani mengeluh.
4. NP + VP + NP Petani mencangkul kebun.
Kami belajar linguistik.
Kakak mengendong adik.
5. NP + VP + NP + NP Ibu membelikan adik boneka
Paman memberikan bibi rumah

Uraian Parera sebenarnya sangat menarik untuk dibahas. Namun dalam kesempatan ini hanya akan dibahas pola dasar kalimat inti Badudu (1990: 32). Temuan dalam penelitian ini lebih relevan dengan uraian Badudu sebagai berikut.

No. Kategori Predikat Contoh Kalimat
1. Verba Kakak berbaring.
Petani mengeluh.
2. Nomina Bapa bidan.
Babi binatang.
Bibi babu.
Beta buruh.
3. Ajektiva Bandung sunyi.
Bajunya sempit.
Bartol sakit.
4. Numeralia Harganya seribu rupiah.
IPK-nya 3,60.
5. Preposisi Ia dari Bali.
Uang itu pada saya.
Bapak ke kantor.

Pola Kalimat
Sekalipun tata bahasa yang dipilih seorang pengajar bisa saja berbeda dengan tata bahasa yang dipilih pengajar lain, tata bahasa yang diajarkannya harus memenuhi kriteria ilmiah yaitu empiris. Empiris itu berarti tata bahasa harus bisa dibuktikan secara ilmiah, oleh setiap oraang, di setiap tempat dan pada setiap waktu.

Pengajaran fungsi kalimat merupakan pengetahuan standar yang diajarkan dalam kelas-kelas bahasa bahkan mulai di sekolah dasar, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Berdasarkan pola dasarnya, Badudu (1990: 32) mengungkapkan pola (1) S-P, (2) S-P-O, (3) S-P-Pel, (4) S-P-K, (5) S-P-O-Pel, (6) S-P-O-Pel-K, (7) S-P-O-K, dan (8) S-P-Pel-K. Kedelapan pola dasar itu, dapat diturunkan menjadi varian yang tak terbatas sebagaimana dari 26 huruf latin diturunkan menjadi kata tertulis bahasa Indonesia yang tak terbatas.

Contoh kalimat berdasarkan pola dasar Badudu (1990: 32) ialah sebagai berikut.

No. Pola Contoh Kalimat
1. S-P Dudi berenang.
Ia menangis.
Harimau binatang buas.
2. S-P-O Libi minum susu.
Binatang itu memanjat pohon.
3. S-P-Pel Ia menangis tersedu-sedu.
Adik bermain bola.
4. S-P-K Cincin itu terbuat dari emas.
Bapak pergi ke kantor.
5. S-P-O-Pel Saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan.
Mereka menamai anak itu Sarah.
6. S-P-O-Pel-K Setiap pagi ibu membuatkan kami nasi goreng.
Ia mengirimi ibunya uang setiap bulan.
7. S-P-O-K Libi minum susu setiap pagi.
Binatang itu memanjat pohon untuk tidur.
8. S-P-Pel-K Ia menangis tersedu-sedu ketika mendengar berita itu.
Adik bermain bola di lapangan.

Banyak sumber yang mewakili teori fungsi kalimat bahasa Indonesia di antaranya adalah buku Sugono (1986) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) (1998), Ramlan (1981), Badudu (1990), Parera (1988) dan Alisyahbana (1953).

Kalimat Majemuk
Pengajaran kalimat majemuk akan lebih mudah dijembatani dengan pengajaran konjungsi (kata sambung). Melalui pengajaran konjungsi itu, pembelajar diperintahkan untuk membuat kalimat. Kalimat yang dibuat pembelajar itu diuraikan klausanya, selanjutnya diuraikan pula polanya.

No. Konjungsi Kalimat Pola
1. dan Ia pergi dan takkan kembali S-P//P
2. walau Walau lelah dilakukannya juga pekerjaan itu. #P#(K)//P-S
3. bahwa Ia berkata bahwa ia mencintaiku. S-P-(Pel)#S-P#
4. bahkan Ia tidak hanya membentak bahkan juga memukul S-P-(K)#P#
5. karena Ia tidak hadir karena hujan turun. S-P-(K)#S-P#

Pengajaran kalimat, di samping sangat penting juga sangat menarik untuk diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Penguasaan kalimat akan mempermudah pemahaman serta mengurangi kekeliruan dalam berbahasa. Hilangnya suatu fungsi dalam kalimat akan menyebabkan kalimat yang dibentuk penutur menjadi keliru. Karena itu penguasaan kalimat akan mengurangi kekeliruan dalam berbahasa.

Rekomendasi
Pembahasan ihwal perilaku pelengkap merupakan penelitian lebih lanjut yang direkomendasikan karena dalam penelitian ini diperoleh perilaku pelengkap yang menarik untuk diamati. Sekalipun beberapa peneliti telah melakukan kerja ilmiahnya berkenaan dengan perilaku pelengkap, penelitian ihwal perilaku pelengkap tetap memberikan peluang bagi setiap pengajar bahasa untuk menelitinya. Masih ada peluang untuk menutupi kekurangan dari penelitian sebelumnya untuk menyempurnakan teori kebahasaan yang berkembang dari khazanah perilaku berbahasa masyarakat.

Daftar Pustaka
Alisyahbana, S.T. (1953) Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Rakyat.
Alwasilah, A.C. (2002) Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Bandung: Dunia Pustaka Jaya – Pusat Studi Sunda. ISBN: 979-419-298-8.
Arikunto, S. (1999) Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi Aksara. ISBN: 979-526-467-2.
Badudu, J.S. (1990) Buku Panduan Penulisan Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa-Depdikbud (diktat dalam penerbitan).
Brown, H.D. (1980) Principles of Language Learning and Teaching. New Jersey: Prentice-Hall.
Chaer, A. (1994) Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Fokker, A.A. (1960) Pengantar Sintaksis Indonesia (terjemahan Djonhar). Jakarta: Pradnya Paramita.
Iswara, P.D. (2000) Variasi Pola Kalimat dan Keterbacaannya. Tesis pada Program Pascasarjana UPI Bandung.
Moeliono, A. (ed) (1998) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Nurgiyantoro, B. (1988) Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Parera, J.D. (1988) Sintaksis (edisi kedua). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Purwo, B.K. (Ed) (1985) Untaian Teori Sintaksis 1970-1980an. Jakarta: Arcan.
Ramlan, M. (1981) Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono.
Sakri, A. (1994) Bangun Kalimat Bahasa Indonesia (edisi kedua). Bandung: Penerbit ITB.
Semiawan, C.R. (Et.Al.) (1988) Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. ISBN: 979-514-139-2.
Slametmulyana (1956) Kaidah Bahasa Indonesia I. Jakarta: Djambatan.
Sugono, D. (1997) Berbahasa Indonesia dengan Benar (edisi revisi). Jakarta: Puspa Swara.
Wojowasito, S. (1961) Linguistik: Sejarah Ilmu (Perbandingan) Bahasa. Jakarta: Gunung Agung.
Wojowasito, S. (1972) Ilmu Kalimat Strukturil. Malang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKSS, IKIP Malang.
Wojowasito, S. (1972) Perkembangan Ilmu Bahasa (Linguistik) Abad 20 sebagai Dasar Pelajaran Bahasa (Hidup). Malang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKSS, IKIP Malang.
Wojowasito, S. (1976) Pengantar Sintaksis Indonesia (Dasar-dasar Ilmu Kalimat Indonesia). Bandung: Sintha Dharma.
Yusuf, T; S. Anwar (1995) Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. ISBN: 979-421-448-5.

Saturday, February 14, 2009

Penelitian TINDAKAN KELAS

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penelitian tindakan kelas bermula dari masalah yang dialami pembelajar di kelas. Pengajar akan berusaha mengobati masalah itu dengan suatu metode penelitian. Dengan demikian, pengajar berhipotesis bahwa dengan metode yang dia gunakan, masalah-masalah yang dialami di kelas dapat dikurangi atau dihilangkan. Biasanya, masalah yang dialami pembelajar merupakan masalah prestasi dan/atau (manajemen) kelas yang kurang terkontrol.

Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang relevan dengan pendidikan karena penelitian tindakan kelas berupaya mengatasi masalah yang dialami pembelajar. Sekalipun begitu, penelitian lainnya dapat pula dilakukan misalnya berkenaan dengan eksperimen murni atau kuasi-eksperimen.

Pengajar ini dapat melihat masalah berupa kurangnya prestasi pembelajar atau manajemen kelas yang buruk. Dengan begitu ada data awal berupa rencana pembelajaran dari data awal, catatan lapangan dari data awal dan prestasi pembelajar dari data awal. Dengan begitu dari rencana pembelajaran dapat terlihat kekurangan pengajar dalam merencanakan pembelajarannya. Dari catatan lapangan pun dapat diketahui proses pembelajaran, ributnya pembelajar, atau kurang lengkapnya pengajar menyampaikan prosedur pembelajaran. Dari prestasi data awal dapat diketahui kurangnya prestasi pembelajar.

Dalam penelitian tindakan kelas ada target-target yang dibuat oleh pengajar. Target itu berupa kompetensi yang ada di dalam rencana pembelajaran. Selanjutnya, evaluasi yang ada pada rencana pembelajaran pun harus sesuai dengan kompetensi ini. Dengan begitu rencana pembelajaran merupakan berkas yang penting dalam penelitian tindakan kelas.

Di dalam penelitian tindakan kelas terdapat siklus-siklus seandainya target belum tercapai. Pengajar dapat pula membuat pola spiral dari materi pembelajaran yang disampaikan kepada pengajarnya. Pengajar dapat pula membuat menentukan materi yang setara dengan siklus pertama. Bila pengajar membuat materi yang setara, pengajar harus menghindari kebosanan pembelajar pada setiap siklusnya. Selain itu, ada pula kekhawatiran terjadi bias, yaitu pemahaman pembelajar memang karena materi itu diulang-ulang pada siklus pembelajarannya.

Selanjutnya bab I dari sebuah laporan penelitian akan mengandung masalah-masalah yang akan dipecahkan di dalam penelitian. Masalah-masalah itu diupayakan untuk diobati berdasarkan hipotesis pembelajar tadi. Masalah ini akan menjadi pusat dari pembahasan dari tinjauan pustaka (bab II) dan simpulan (bab V).

Thursday, December 11, 2008

Penelitian OBSERVASI

OBSERVASI

Observasi merupakan suatu metode penelitian. Instrumen yang digunakan di dalam observasi di antaranya pedoman observasi. Di dalam observasi peneliti menyiapkan instrumen penelitian yaitu pedoman observasi. Pedoman observasi ini dapat berupa daftar yang dapat dicek (ceklis).

Sungguhpun pedoman observasi telah disiapkan, ada kalanya peneliti mendapati hal-hal yang baru, yaitu yang tidak ada di dalam ceklisnya. Dalam hal ini peneliti mesti menuliskan hal-hal yang baru itu di dalam catatannya (mungkin di kolom keterangan atau di bawah forumulir pedoman observasi.

Ada kalanya observasi itu dilakukan sebagai pelengkap penelitian utama. Ketika penelitian mengutamakan pengambilan data pada teknik tes dengan suatu metode statistika, observasi dapat menjadi pelengkap teknik tes itu. Penelitian seperti ini melihat tes sebagai data utamanya.

Pada penelitian lain, observasi bisa saja merupakan pekerjaan utama dalam memperoleh data penelitian. Peneliti sendirilah yang menentukan wilayah garapan penelitiannya. Biasanya wilayah ini akan melibatkan ketertarikan masyarakat dan sisi komersil dari penelitian ini. Beberapa universitas berbadan hukum milik negara berusaha mematenkan penelitian-penelitiannya.

Monday, December 1, 2008

Penelitian KONSEP PEMBELAJARAN ASINKRONUS

IKHTISAR KONSEP PEMBELAJARAN ASINKRONUS

Pembelajaran asinkronus (atau disebut juga pembelajaran berbasis teknologi informasi) merupakan pembelajaran yang berbeda dari sisi waktu dan tempatnya. Pengajar menyampaikan materi dan menyimpannya di internet pada suatu waktu. Kemudian pembelajar mempelajari materi yang diperolehnya di internet pada waktu yang lain.

Materi yang disimpan bisa dalam berbagai jenis file. Pengajar-pengajar yang menggunakan komputer akan terbiasa dengan file berbentuk teks misalnya file berekstensi *.doc, *.txt, *.docx, atau *.xls. Pengguna komputer pun biasanya tidak asing dengan file-file gambar baik berupa foto atau gambar digital misalnya file berekstensi *.jpg, *.png, *.gif. Beberapa pengguna komputer telah mengenal animasi. Sekarang animasi di internet lebih menarik daripada gambar. Animasi itu dapat berupa gambar kecil yang bergerak atau menampilkan teks yang bergerak. Animasi itu dapat dibuat dengan flash atau pengolah gambar / foto. File animasi di antaranya berekstensi *.swf, atau *.gif. Daripada hanya sekedar teks, pembelajaran dengan gambar atau animasi akan lebih menarik.

Selain teks, gambar dan animasi terdapat pula dua jenis materi lain yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran asinkronus yaitu materi suara dan film.

Permasalahan
Salah satu permasalahan dari pembelajaran asinkronus adalah materi-materi yang harus disiapkan dengan baik. Biasanya, pembelajar selalu siap dengan keadaan kelas klasikal. Pada kelas klasikal itu pembelajar siap mendengarkan ceramah dari pengajar. Sangat memungkinkan pula bagi pengajar yang kreatif tidak hanya menyiapkan ceramah, melainkan dengan latihan dan media yang menarik bagi pembelajarnya.

Beberapa pengajar tidak yakin akan efektifitas pembelajaran asinkronus sebagaimana mereka tidak yakin pada kekuatan sebagian media di dalam pembelajaran. Bagi mereka kekuatan pembelajaran bukan pada media, melainkan pada kepiawaian pengajar dalam mengolah materi pembelajaran. Mereka berkeyakinan bahwa media terbaik sekalipun bila tidak disampaikan dengan baik akan kurang efektif bagi pembelajaran.

Pembelajaran asinkronus pada saat ini diyakini bukanlah pembelajaran yang mutlak harus ada. Pembelajaran asinkronus dilakukan sebagai pemerkaya dari pembelajaran-pembelajaran klasikal. Beberapa pengajar yang cukup puas dengan pembelajaran klasikal sama sekali tidak mau melirik pada inovasi baru dari pembelajaran, yaitu pembelajaran asinkronus ini.

Ada beberapa kelebihan yang dapat diperoleh dari pembelajaran asinkronus, di antaranya (1) materi dapat disimpan dan dikembangkan, (2) ujian dapat disimpan dalam bank soal. Materi pembelajaran dapat dikembangkan dari hanya sekedar teks, gambar, animasi, suara, bahkan film kependidikan. Demikian pula materi ujian dapat disimpan dan dikembangkan sebagai ujian standar ataupun ujian harian.

Upaya Pemecahan Masalah
Salah satu upaya untuk mendapatkan materi pembelajaran yang paling mudah adalah merekam ceramah kemudian menyimpannya di dalam pembelajaran asinkronus (berbasis teknologi informasi). Pada saat ini pesawat pemutar mp3 (mp3 player), pemutar mp3 (mp3 player), atau telepon selular dapat merekam sampai puluhan menit. File-file ini bisa saja berekstensi *.wav atau *.amr. Rekaman-rekaman ceramah ini sangat ideal untuk disimpan di internet agar pembelajar dapat memanfaatkannya. Pembelajar dapat mengunduh (men-download) file dan menyetelnya di pemutar mp3 atau telepon selularnya.

Dengan begitu pengajar tidak selamanya harus mengetik teks untuk disimpan di internet atau membuat gambar atau animasi untuk pembelajarnya. Pengajar tinggal merekam ceramahnya saja sebagai materi pembelajaran yang disimpan di internet.

Upaya lainnya yang dapat dilakukan adalah membuat film pembelajaran di kelas. Film pada saat ini dapat dibuat hanya dengan telepon selular ataupun dengan kamera. Pembuatan film dengan telepon selular lebih realistis karena filenya dapat langsung disimpan (di-upload) di internet. Di samping itu file-file dari telepon selular (berekstensi *.3gp) cenderung kecil ukurannya (kurang lebih 2M bytes) dan dapat diputar ulang di telepon selular pembelajar sesaat setelah pembelajar mengunduhnya.

Merekam pembelajaran menjadi film merupakan upaya yang relatif tidak lebih sukar daripada merekam pembelajaran menjadi suara. Hasilnya, film dan suara akan lebih menarik daripada sekedar teks yang ada di situs internet.

Permasalahan Lain beserta Pemecahannya
Permasalahan lainnya dari penggunaan internet adalah kurang terampilnya pengajar dalam melakukan upload atau download materi. Salah satu alternatif pemecahannya adalah mengadakan pelatihan bagi pengajar. Alternatif lainnya adalah menyerahkan pekerjaan upload atau download materi oleh staf internet.

Thursday, November 27, 2008

Penelitian PEMBUATAN PROPOSAL

PEMBUATAN PROPOSAL


Pembuatan proposal dapat dilakukan pada setiap mata kuliah karena setiap mata kuliah berorientasi ilmiah dan penemuan ilmiah.
Proposal terdiri atas sejumlah bab. Bab yang ada pada proposal tidak semuanya mutlak. Ada bab-bab tertentu yang mesti ada dan ada bab-bab yang boleh tidak ada. Proposal penelitian dibuat sebelum terjun ke lapangan dan menulis laporan penelitian.

0. Judul
1. Latar Belakang
Pada bab latar belakang diuraikan hal-hal yang mendorong dilakukannya penelitian.
2. Masalah
Masalah biasanya dirumuskan dalam kalimat tanya. Masalah ini akan berkaitan dengan seluruh bab, terutama bab tujuan dan kesimpulan (pada laporan penelitian).
3. Tujuan
4. Asumsi
5. Hipotesis
Hipotesis biasanya muncul pada penelitian yang bersifat kualitatif. Hipotesis pada penelitian kualitatif biasanya menguji hioptesis nol.
6. Metode
Metode penelitian yang digunakan mesti ditentukan dan ditulis. Contoh metode penelitian di antaranya metode eksperimen, eksperimen kuasi. Metode ini bersumber pada pendekatan kualitatif atau kuantitatif.
7. Teori Landasan
Pada bab ini diuraikan studi pada literatur atau penelitian terdahulu yang relevan.
8. Populasi
Pada bab populasi diuraikan jumlah populasi yang digunakan dalam penelitian.
9. Lokasi Penelitian
10. Daftar Pustaka

Friday, August 22, 2008

Penelitian STUDI PENDAHULUAN

STUDI PENDAHULUAN
(PILOT STUDY)

Studi pendahuluan merupakan studi yang dilakukan untuk mempertajam arah studi utama. Studi pendahuluan dilakukan karena kelayakan penelitian berkenaan dengan prosedur penelitian dan hal lainnya masih belum jelas. Studi pendahuluan bisa saja mengubah arah penelitian yang telah disusun di dalam proposal.

Dengan demikian, studi pendahuluan bisa saja menghasilkan perubahan prosedur penelitian, meningkatkan pengukuran, meningkatkan kepercayaan asumsi, dan desain yang lebih mantap dari studi utama.

Studi pendahuluan tak jarang merupakan miniatur dari studi utama. Tak jarang studi pendahuluan pun menguji sejumlah instrumen yang akan digunakan dalam studi utama.

Monday, June 16, 2008

Penelitian E-LEARNING SEBAGAI RANAH PENELITIAN PENDIDIKAN BAHASA DI UPI KAMPUS SUMEDANG

Iswara
E-LEARNING SEBAGAI RANAH PENELITIAN PENDIDIKAN BAHASA DI UPI KAMPUS SUMEDANG

Pengantar
Pada saat ini internet mulai merambah ke segala bidang, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, hobi dan lain-lain. Bila pada sekitar tujuh tahun yang lalu tidak ditemui warung internet (warnet, internet café) di kota-kota, kini warnet telah banyak dijumpai di kota-kota.
Fenomena dikenalnya internet oleh masyarakat tidak terlepas dari keyakinan akan kekuatan internet sendiri di masa depan. Bila pada tahun 1970-an televisi dianggap sebagai barang baru dan mewah, pada tahun 2000-an (tiga puluh tahun kemudian) televisi telah menjadi barang yang biasa bahkan di pelosok-pelosok desa. Bila internet pada tahun 2000-an dianggap baru dan mewah, bukan tidak mungkin pada sepuluh atau lima belas tahun mendatang, pelosok-pelosok desa telah menjangkau internet. Ketika televisi diyakini sebagai alat telekomunikasi pemersatu, negeri ini mengejar penggunaan televisi hingga ke desa-desa. Demikian pula ketika internet diyakini memberi manfaat yang lebih besar daripada televisi, negeri ini mengejar penggunaan televisi hingga ke desa-desa.
Penggunaan internet bisa saja dimassalkan hingga ke desa-desa. Tetapi negeri ini masih mempunyai ganjalan yang cukup besar bagi pengembangannya yaitu adakah masyarakat siap untuk mendukung internet? Bila pertanyaan ini dilontarkan di kota-kota besar jelas jawabannya, ”Ya”. Dengan demikian akan terlihat kota-kota besar telah mempunyai server yang memusatkan administrasinya dengan internet. Tetapi bila pertanyaan ini dilontarkan ke desa-desa, belum tentu jawabannya, ”Ya”.
Berdasarkan pengamatan sepintas, pengguna internet pada saat ini lebih banyak kaum muda daripada orang-orang tua. Munculnya warung internet mendorong pemuda-pemuda untuk mencari tahu wujud internet yang sebenarnya. Berdasarkan jam terbang pun seseorang akan mengetahui berbagai fasilitas yang terdapat di internet seperti browsing, e-mail, chat (misalnya mIRC, yahoo messenger), video chatting, atau voice over internet protocol (VoIP).
Aktifitas browsing mungkin merupakan salah satu aktifitas internet yang paling sering dilakukan. Dengan browsing, seorang pengguna internet akan memperoleh teks yang diinginkannya. Pada saat ini dengan browsing tidak hanya teks yang bisa diperoleh melainkan bisa multimedia (hypertext) seperti foto (jpg, gif) rekaman suara (MP3, wav), film (DAT, 3GP, AVI), animasi (swf) atau dokumen lainnya (doc, xls, pdf, txt).
Seorang administrator (biasanya disingkat admin) situs e-learning tentu dapat melihat potensi penelitian dalam e-learning. Tetapi tidak mereka saja. Orang-orang yang telah menggunakan internet pun (atau menggunakan e-learning) dapat melihat potensi penelitian itu. Ranah penelitian e-learning memang boleh dikatakan masih baru, karena memang munculnya e-learning ini pun ramainya belum sampai belasan tahun. Sekalipun sejak dahulu telah ditemukan berbagai program pembelajaran seperti computer assisted instruction (CAI) dan semacamnya, program pembelajaran seperti itu berkembang pesat setelah ditemukannya internet, bahkan setelah ditemukannya bahasa pemrograman internet seperti active server pages (ASP) dan personal homepages: hypertext preprocessor (PHP).

E-learning berbasis Moodle di Internet
Pada saat ini Moodle sebagai sistem manajemen pembelajaran (course management system) merupakan salah satu program internet yang sangat terkenal karena merupakan program gratis dan terbuka (free, open source software package). Pengguna tinggal men-download-nya dan menginstalnya di server. Pengetahuan dasar yang mesti dimiliki pengguna adalah bahasa pemrograman dasar internet personal homepages: hypertext preprocessor (PHP). Dengan memahami bahasa PHP, seorang pengguna dapat menyetel bahkan mengubah tampilan Moodle (lihat http://moodle.org).
Hingga saat ini sudah banyak situs yang menggunakan program Moodle. Pengguna-pengguna program Moodle dapat dilihat di http://moodle.org/sites/ di antaranya FPMIPA UPI (http://fpmipa.upi.edu/kuliah) dan Universitas Terbuka (http://student.ut.ac.id/), ITB (http://kuliah.itb.ac.id/), Fisika UI (http://e-learning.fisika.ui.ac.id/), FE UGM (http://www.mep.ugm.ac.id/moodle). Beberapa institusi yang terdaftar di situs resmi Moodle bahkan merupakan sekolah menengah dan kursus.

Situs UPI Kampus Sumedang
Mulai pertengahan tahun ini (sekitar bulan Juni 2007) UPI Kampus Sumedang telah mengembangkan situs e-learning. Para pengajar dan pembelajar dapat mengakses situs e-learning ini dari alamat http://kd-sumedang.upi.edu. Situs ini didukung penuh oleh teknologi Moodle (moodle.org). Teknologi Moodle merupakan teknologi e-learning yang dikenal luas oleh pengguna / programer internet berbasis personal home pages (PHP: Hypertext Preprocessor) karena berupa open source program. Sekali program ini terpasang di server, pengguna (pengajar dan pembelajar) dapat melakukan berbagai aktifitas belajar-melajar dengan basis e-learning.
Di UPI Kampus Sumedang sendiri terdapat beberapa pengajar yang berpotensi untuk dapat menggunakan Moodle sepenuhnya (lihat boks angket). Pelajaran-pelajaran bahasa, matematika, ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu pengetahuan alam berpotensi dikembangkan di sana. Setidaknya di UPI Kampus sumedang sendiri terdapat dosen teknologi informasi dan komunikasi dan dosen penggunaan komputer bagi pengajar taman kanak-kanak.
Salah satu pertanyaan mengemuka berkenaan dengan internet dan e-learning. Perlukah penguasaan teknologi informasi bagi pengajar sekolah dasar dan taman kanak-kanak? Seorang dosen teknologi informasi dan komunikasi (DTIK) UPI Kampus Sumedang berpendapat bahwa calon pengajar sekolah dasar dan taman kanak-kanak tidak kurang perlunya dalam penguasaan teknologi informasi karena era perdagangan bebas memungkinkan pengajar untuk mempunyai kualitas demikian. Tidak diragukan lagi bahwa komputer tidak hanya diperlukan oleh orang berdisiplin ilmu komputer saja. Komputer bahkan telah menjadi kebutuhan pribadi setiap individu. Idealnya, satu komputer untuk satu orang. Hal ini menjadi salah satu dasar dikembangkannya e-learning di UPI Kampus Sumedang.
Dari tampilan luarnya situs UPI Kampus Sumedang ini dikembangkan dari theme yang berbeda dari default Moodle. Situs UPI Kampus Sumedang menggunakan theme silver sehingga ketika seseorang mengaksesnya, terlihat situs ini didominasi oleh warna perak dengan tulisan yang jelas berwarna hitam. Situs ini masih menggunakan default bahasa Inggris. Sekalipun demikian, pelajaran-pelajaran yang di-upload di sana menggunakan bahasa Indonesia. Program Moodle sebenarnya dapat diinstal dengan berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Halaman awal situs ini menampilkan berita, pemberitahuan dan kolom login.

Pada umur yang relatif muda, situs ini memang baru menampilkan berita, di antaranya berita pelatihan asesor yang diikuti dosen UPI Kampus Sumedang (Agustus), praktik pengalaman lapangan (PPL) kependidikan (Agustus), kuliah kerja nyata UPI Kampus Sumedang (Juli), penerimaan mahasiswa baru (Juni). Pada situs ini pula terdapat beberapa kuis dan survey yang merupakan contoh (demo) bagi pengajar untuk dapat menyusun kuis yang relevan dengan mata kuliahnya masing-masing. Kuis yang ditampilkan sebagai contoh ialah kuis kebersihan (IPS), sastra, dan matematika. Tanpa harus log-in, pengguna dapat mencoba kuis ini. Pengguna kuis ini dituntut untuk mengerjakan soal pilihan jamak (multiple choice) dan esai singkat. Karena hanya contoh, soal yang diberikan tak lebih dari 10 soal. Pengakses soal langsung mendapatkan nilai setelah mengerjakan soalnya. Selain terdapat kuis, sekalipun belum terdapat di situs ini, e-learning berbasis Moodle memungkinkan pengajar dan pembelajar berinteraksi melalui pengiriman tugas-tugas atau memasuki ruang obrol (chat), atau berkirim pesan (offline messages, seperti e-mail).
Di samping berita dan kuis, dalam situs ini pun terdapat link pada situs Moodle lainnya, di antaranya situs FPMIPA UPI Bandung (http://fpmipa.upi.edu/kuliah), FPTK UPI Bandung (http://fptk.upi.edu), dan Universitas Terbuka (http://student.ut.ac.id/). Dengan melihat situs lain dalam link ini, pengajar dan pembelajar dapat melihat potensi pengembangan situs UPI Kampus Sumedang bagi mereka sendiri. Salah seorang dosen UPI Kampus Sumedang telah berkomunikasi dengan dosen FPMIPA berkenaan dengan penggunaan Moodle. Dosen UPI Kampus Sumedang lainnya bahkan diizinkan melihat video presentasi dosen FPMIPA sebagai bagian dari kegiatan Moodlenya. Bertukar informasi, berkirim pesan, mengisi bulletin board merupakan kegiatan yang lazim dilakukan bahkan di situs resmi Moodle (moodle.org).
Selanjutnya, bila seseorang diizinkan log-in ke dalam situs UPI Kampus Sumedang ini, ia dapat mengakses mata kuliah yang ada di dalamnya. Dalam situs ini terlihat beberapa mata kuliah tengah dikembangkan. Mata kuliah ini terlihat masih dalam pengembangan dan tidak terkunci oleh password. Mata kuliah yang terlihat di situs ini adalah (1) Dasar-dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi, (2) Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Rendah, (3) Teori dan Sejarah Sastra, (4) Membaca dan Menulis di Sekolah Dasar: Teori dan Praktik, serta (5) Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi. Pada mata kuliah Teori dan Sejarah Sastra terdapat beberapa diskusi awal berkenaan dengan beberapa materi kuliahnya berupa link pada beberapa situs sajak dan file pembacaan sajak.
Menurut salah seorang dosennya yang merupakan admin dari situs UPI Kampus Sumedang, penggunaan e-learning ini memungkinkan banyak potensi bagi para pengajar (dosen) dan pembelajar (mahasiswa) UPI Kampus Sumedang. Potensi ini bisa disertakan dalam penelitian pada setiap disiplin ilmu berkenaan dengan e-learning, misalnya berkenaan dengan prosedur, efektifitas dan efisiensi. Modul Moodle sendiri dapat dikembangkan menurut situs resminya. Untuk mendukung penelitian seperti itu, Moodle mempunyai perangkat survey yang telah diinstal di situs UPI Kampus Sumedang.
Di UPI Kampus Sumedang terdapat 25 komputer yang online dengan network internet. Kedua puluh lima komputer itu terdapat dalam satu gedung yang dibagi menjadi dua ruang. Sekalipun rasio jumlah komputer dengan mahasiswa tidak ideal, keberadaan komputer itu amat meringankan dahaga keingintahuan pembelajar tentang teknologi internet. Selain 25 komputer itu, ada pula komputer lain yang dijalankan di luar network yaitu satu buah di gunakan sebagai administrasi perpustakaan, tiga buah di kantor akademik, dan dua buah digunakan di kantor tata usaha. Beberapa laptop digunakan sebagai pesawat portable untuk presentasi di kelas-kelas tertentu dan kelas pascasarjana. Tidak seperti di UPI.net Bumi Siliwangi dan Pascasarjana UPI Kampus Bumi Siliwangi, UPI.net Kampus Sumedang belum memasang hotspot WiFi di kampusnya. Di Sumedang sendiri pada saat ini (di luar Jatinangor) hanya UPI Kampus Sumedang yang merupakan kampus yang online.
Keberadaan situs ini akan bergantung pada potensi pengajar dan pembelajarnya. Menurut Erik, salah seorang pembelajar UPI Kampus Sumedang, penggunaan e-learning bagi pembelajar dapat saja diwajibkan. Pengajarlah yang mempunyai inisiatif untuk menentukan penggunaan media e-learning itu. Menurutnya pula partisipasi pembelajar secara mutlak diperlukan mengingat pentingnya penguasaan komputer seiring tuntutan zaman.
Sebanyak 35 lembar angket yang disebar kepada para pembelajar UPI Kampus Sumedang dan 10 lembar disebar kepada pengajar UPI Kampus Sumedang menunjukkan 53,33% dari responden cukup tertarik pada situs UPI Kampus Sumedang (http://kd-sumedang.upi.edu). Namun, dari pembelajar itu 42,22% dari responden mengaku kurang tertarik pada e-learning. Diketahui pula bahwa selama ini 60,00% dari responden merasa kurang terbantu dengan e-learning (lihat bantuan e-learning dalam pendidikan).

Hasil angket di atas merupakan gambaran bagi pembelajar dan pengajar UPI Kampus Sumedang tentang e-learning dan situs http://kd-sumedang.upi.edu. Harapan bagi pengembangan wawasan pengajar dan pembelajar UPI Kampus Sumedang jelas terbuka lebar mengingat umur situs ini yang masih relatif muda, atau boleh dikatakan masih bayi (dua bulan sejak Juni 2007).

Potensi Penelitian Pendidikan Bahasa
Wilayah penelitian pendidikan berikut merupakan modifikasi dari pendapat Arikunto (1999: 295) berkenaan dengan objek atau sasaran evaluasi program.

Melihat banyaknya wilayah penelitian di atas, seorang calon peneliti tentu dapat melihat wilayah mana yang paling memungkinkan baginya untuk diteliti. Penelitian berkenaan dengan e-learning pada wilayah di atas masih tergolong baru sehingga amat menarik untuk dikembangkan.
Sebagai pembanding dapat digunakan Nurgiyantoro (1988) berkenaan dengan penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra. Nurgiyantoro menguraikan contoh penilaian dalam pembelajaran berdasarkan tingkat kategori Bloom: (1) tingkat ingatan, (2) tingkat pemahaman, (3) tingkat aplikasi, (4) tingkat analisis, (5) tingkat sintesis, (6) tingkat evaluasi. Uraian berikut dimodifikasi dari Nurgiyantoro (1988) di antaranya
1. tes kompetensi kebahasaan
tes struktur tata bahasa
tes kosakata
2. tes kemampuan reseptif
tes kemampuan menyimak
tes kemampuan membaca
3. tes kemampuan produktif
tes kemampuan berbicara
tes kemampuan menulis
4. tes kesastraan
tujuan, bahan dan penilaian dalam pengajaran kesastraan
pendekatan taksonomis tes kesastraan
penilaian ranah kognitif
penilaian ranah afektif
penilaian ranah psikomotor
tingkatan tes kesastraan
tes kesastraan kategori Moody
tes kesastraan tingkat informasi
tes kesastraan tingkat konsep
tes kesastraan tingkat perspektif
tes kesastraan tingkat apresiasi

Penilaian dalam pembelajaran sangatlah penting karena menjadi indikator keberhasilan pembelajaran. Penilaian dalam pembelajaran pun dapat menjadi bagian penelitian e-learning.
Van Dalen (1962) dan McMillan-Schumacher (1989) mengungkapkan dasar pemerolehan pengetahuan melalui penelitian. Selain itu mereka menguraikan sejumlah pembahasan dalam penelitian pendidikan. Van Dalen (1962: 175) mengungkapkan penilaian efektifitas pembelajaran (assessment of teacher effectiveness).

Wawasan berkenaan dengan lingkup penelitian pendidikan akan diungkap McMillan-Schumacher (1989) berkenaan dengan penelitian kuantitatif maupun kualitatif; penelitian evaluasi (evaluation research) dan penelitian komunikasi kependidikan (communication of educational research).
Berdasarkan uraian Arikunto (1999), Nurgiyantoro (1988) atau Van Dalen (1962) di atas, keberadaan e-learning amat relevan dengan penelitian pendidikan. Ranah-ranah yang dapat diteliti pun demikian beragam yang memungkinkan untuk diadakan sebuah penelitian besar yang memayungi penelitian-penelitian lainnya yang lebih kecil.

Daftar Pustaka
Arikunto, S. (1999) Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, S. (1989) Manajemen Penelitian. Jakarta: Depdikbud.
http://moodle.org
http://kd-sumedang.upi.edu
McMillan, J.H; S. Schumacher (1989) Research in Education: A Conceptual Introduction (2nd edition). Virginia: Harper Collins.
Nurgiyantoro, B. (1988) Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Van Dalen, D.B. (1962) Understanding Educational Research. New York: McGraw-Hill.