STRATEGI MEMBACA PEMAHAMAN KLA
Pengajar mempunyai kemungkinan untuk memodifikasi strategi pembelajaran sesuai kebutuhannya. Pada mulanya pengajar dapat menggunakan strategi yang ada seperti KWL, POSSE, atau SQ3R. Berdasarkan pengalamannya menggunakan strategi-strategi itu, pengajar dapat memodifikasi strategi itu sesuai kebutuhannya bahkan sampai menemukan strategi yang baru. Strategi yang baru ini mungkin akan lebih baik daripada strategi sebelumnya.
POSSE merupakan strategi membaca yang terdiri atas langkah predict (P), organize (O), search for structure (S), summarize (S), dan evaluate (E). Sedangkan KWL merupakan strategi membaca yang terdiri atas langkah what do you know (K), what you want to know (W), what you have learned (L).
Para pengajar membaca mesti mempelajari sejumlah model, strategi, metode, atau teknik membaca. Dengan begitu, mereka dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan suatu model membaca serta dapat menentukan waktu penggunaannya. Lebih lanjut, pengajar dapat mengembangkan model membaca, strategi membaca, metode membaca, atau teknik membaca itu sesuai dengan kebutuhan pengajar di kelas.
Strategi KLA merupakan singkatan dari what do you know (K), what you have learned (L), dan how you answer the test (A). Pada dasarnya langkah what you have learned (L) pada strategi ini mirip dengan langkah yang sama pada KWL atau langkah summarize pada POSSE.
Strategi KLA merupakan strategi yang dimodifikasi dari strategi POSSE dan KWL. Strategi POSSE dan KWL dimodifikasi menjadi KLA karena pada strategi POSSE dan KWL, langkah predict (P) dan what do you know (K) seperti diulang lagi dengan langkah organize (O) dan what do you want to know (W).
Pada langkah how you answer the test (A), pengajar membimbing pembelajar untuk menjawab pertanyaan berdasarkan tes. Pengajar dapat pula mengadministrasikan tes pada langkah ini.
Strategi KLA dapat diterapkan pada pembelajaran membaca untuk membaca bagian demi bagian (paragraf demi paragraf) maupun keseluruhan teks. Hal ini juga sebagaimana strategi POSSE dapat digunakan untuk membimbing pembelajar membaca paragraf demi paragraf.
Strategi KLA ini dapat dibandingkan dengan strategi 3H (here, hidden, in my head) karena pada langkah how you answer the test (A), pembaca dapat menentukan apakah jawabannya eksplisit (ada) di dalam teks (here), implisit di dalam teks (hidden, dapat disimpulkan), atau telah ada dalam pikiran pembaca (in my head, pengetahuan umum).
Strategi KLA ini bisa saja dimodifikasi atau diindonesiakan menjadi tebak, rangkum, administrasikan tes (TRA). Dengan begitu, pembelajar akan menebak dulu isi bacaan, kemudian membaca, lalu merangkum (membandingkan tebakan dengan isi teks), dan mengikuti administrasi tes.
Wednesday, January 27, 2010
Membaca STRATEGI MEMBACA PEMAHAMAN KLA
Posted by Iswara at 4:22 AM 0 comments
Labels: Membaca
Monday, January 25, 2010
Membaca STRATEGI MEMBACA PEMAHAMAN POSSE
STRATEGI MEMBACA PEMAHAMAN POSSE
POSSE merupakan strategi membaca pemahaman yang dikembangkan oleh Carol Englert dan Troy Mariage pada tahun 1991. Strategi POSSE mempunyai kesamaan dengan KWL atau SQ3R. Strategi membaca POSSE dapat digunakan untuk pembelajaran membaca pemahaman di kelas 3 sekolah dasar (SD) atau setelahnya. POSSE dapat digunakan untuk pembelajar di SD kelas 3, 4, 5 atau 6. Pengajar akan membimbing pemahaman pembelajar paragraf demi paragraf. POSSE merupakan singkatan.
P- Predict Ideas
O- Organize the Ideas (can use note-taking or graphic organizers)
S- Search for the Structure
S- Summarize the Ideas
E- Evaluate your Understanding
Terjemahan bebas langkah POSSE di atas dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut.
P- Memprediksi isi wacana
O- Menyusun prediksi (bisa menggunakan catatan atau bagan)
S- Membaca wacana
S- Merangkum hasil membaca
E- Mengevaluasi pemahaman
POSSE bisa digunakan untuk membimbing pembelajar membaca paragraf demi paragraf karena pembelajar dibimbing untuk memprediksi setiap paragraf, membaca setiap (suatu) paragraf, merangkum setiap paragraf, dan mengevaluasi pemahaman pada setiap paragraf.
Posted by Iswara at 6:36 PM 0 comments
Labels: Membaca
Tuesday, April 28, 2009
Membaca STRATEGI dia tampan
STRATEGI MEMBACA dia tampan
Strategi membaca sangat penting dikuasai pengajar membaca. Ada banyak strategi pengajaran membaca, teknik pengajaran membaca, model membaca atau metode membaca. Di UPI Kampus Sumedang dikembangkan beberapa strategi membaca baik strategi yang telah umum dikenal maupun strategi yang baru dikembangkan. Strategi membaca yang telah umum dikenal misalnya strategi POSSE, K-W-L, DRA, DRTA, Snatch It dan lain-lain.
Salah satu strategi membaca yang diperkenalkan dalam pembelajaran membaca permulaan adalah strategi membaca dia tampan. Nama ini diajukan karena dalam pengajaran membaca permulaan, huruf-huruf yang pertama diajarkan adalah huruf d, n, t, p, m. Nama alternatif atau nama lain dari strategi dia tampan adalah strategi dadan tampan. Nama dadan digunakan untuk menghormati salah satu pengajar di UPI Kampus Sumedang, sekalipun strategi ini tidak dibuat olehnya.
Jadi strategi dia tampan menggunakan huruf d, n, t, p, m dalam pengajaran membaca permulaan. Uraian dari strategi dia tampan itu adalah sebagai berikut.
d --> ada
dada
didi
dudu
dede
dodo
ada dadi
ada dodi
ada dadu
ada didu
ada duda
ada dida
ada ida
ada dodi di dada ida
n --> ini
ini nana
ini nani
ini noni
ini nini
ini nina
ini nani
t --> itu
itu tati
itu tuti
itu tita
itu tia
itu toti
itu titu
itu teti
p --> apa
apa ini
apa itu
apa ini nina
apa itu tuti
apa ini papa
apa ini pipa
apa ini popo
apa ini popi
apa ini pepi
apa ini pipo
m --> mana
mana nana
mana nani
mana nina
mana noni
mana nini
mana mama
mana mami
mana mumi
mana momo
Sebagian orang mengenal pipo sebagai panggilan dari Filipo "Pippo" Inzaghi yaitu pemain bola klub AC Milan dari Italia. Nama dida juga adalah pemain bola dari klub AC Milan. Demikian pula toti sebagai panggilan dari Fransesco Totti yaitu pemain bola klub AS Roma dari Italia. Nama titu adalah nama dua vokalis T2 (tee two).
Dari huruf-huruf d, n, t, p, m muncul kata-kata awal yaitu ada, ini, itu, apa, dan mana. Dari kata-kata itu, huruf lainnya dapat diajarkan. Huruf lainnya misalnya c, g, j, y, w, kemudian b, h, k, l, kemudian s, dan r. Contohnya pada kalimat berikut.
c
ada cica
ini cici
itu cucu
apa ini cece
mana ica
g
ada dago
ini gigi
itu egi
apa ini iga
mana ega
Pengajaran ini bisa dilanjutkan sesuai kreatifitas guru.
Film pembelajaran membaca permulaan dengan strategi dia tampan adalah sebagai berikut.
Posted by Iswara at 6:04 AM 0 comments
Labels: Membaca
Saturday, March 28, 2009
Membaca PROSEDUR PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN
PROSEDUR PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN
Pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan prosedur berikut.
1. menyiapkan wacana
2. mengukur keterbacaan wacana
3. membagikan wacana dengan sebuah strategi membaca
4. menguji kemampuan membaca
Pada langkah ke tiga, pengajar menggunakan salah satu strategi membaca seperti yang tercantum pada situs http://homepages.wmich.edu/~whitten/champaign_project/reading.html di antaranya
1. membaca permulaan (beginning Reading) contohnya Snatch It
2. membaca kosakata (reading Vocabulary) contohnya Word Box Cards; List, Group, Label; Terminology Trade; IT FITS; The 3 R's strategy; Figure
3. pra-membaca (pre-reading) contohnya The Anticipation Guide Strategy, What's In Your Backpack?, FLASH, PReP, Semantic Mapping, TELLS: Fact or Fiction
4. membaca pemahaman (reading comprehension) contohnya K-W-L, Paraphrasing, POSSE, ReQuest, The SPOT strategy, SQ4R, A-Qu-A, Provide Evidence, Picture Mapping, The Circle of Questions
Setelah itu pembelajar dapat diuji pemahamannya. Bila pemahaman masih kurang, mungkin saja dapat dilakukan perbaikan dalam prosedur pembelajaran.
Posted by Iswara at 5:22 PM 0 comments
Labels: Membaca
Tuesday, February 17, 2009
Membaca SKANING
MEMBACA SKANING
Membaca skaning (scanning) bertujuan untuk mencari informasi spesifik (look for specific information). Bila seseorang membaca sebuah artikel tentang bencana alam di koran, maka ia bisa saja mencari informasi spesifik tentang bencana alam itu, misalnya mencari jumlah korbannya, tempat terjadinya, pertolongan yang telah dilakukan, antisipasi dari bencana alam atau latar belakang terjadinya bencana alam. Pembaca bisa saja menemukan informasi yang dicarinya atau bisa saja tidak menemukan informasi yang dicarinya.
Contoh peristiwa skaning adalah mencari bacaan di internet. Seseorang yang mencari sumber-sumber (bacaan) di internet bisa saja mencari dengan sebuah mesin pencari, misalnya google (www.google.com atau www.google.co.id). Ia akan memasukkan kata kunci atau tema yang dicarinya. Kemudian google akan menampilkan ribuan teks yang berkenaan dengan kata kunci atau tema itu. Saat kita mencari teks yang relevan dengan pencarian kita, itulah proses membaca skaning.
Posted by Iswara at 6:37 PM 0 comments
Labels: Membaca
Saturday, February 14, 2009
Membaca SKIMING
MEMBACA SKIMING
Membaca skiming adalah teknik membaca pemahaman yang bertujuan untuk mencari ide utama (look for main idea). Kadang-kadang seseorang membaca koran, buku, artikel di internet. Bila si pembaca bertujuan untuk mencari ide utamanya, maka pembaca itu akan memperoleh ide utamanya.
Jika seseorang ditanya tentang isi bacaannya, ia akan dapat menjawab garis besar atau ide utama dari bacaan yang ia baca. Skiming merupakan teknik membaca cepat yang mesti dilatih.
Membaca pemahaman identik dengan membaca cepat. Membaca cepat lebih menekankan pada kecepatannya. Sekalipun kecepatan diutamakan, pemahaman tetap harus maksimal. Kemampuan membaca cepat ditandai dengan dua variabel penting yaitu pemahaman dan kecepatan. Membaca tidaklah efisien tanpa kecepatan yang laju. Membaca pun tidak bermanfaat tanpa pemahaman yang maksimal.
Posted by Iswara at 1:19 AM 0 comments
Labels: Membaca
Monday, June 16, 2008
Membaca TANDA-TANDA VISUAL PEMBACA TOP DOWN
Tanda-tanda Visual Pembaca Top Down
Evaluasi Portofolio Model Membaca Top Down
Membaca merupakan proses yang dilakukan dengan indera mata. Proses membaca dari seorang pembaca dapat diamati dan dievaluasi dalam pembelajaran. Seseorang yang telah membaca pun dapat dievaluasi pemahamannya.
Bila model membaca top down didefinisikan sebagai model membaca yang menafsirkan teks berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, dapatkah pengajar menilai bahwa pembelajar telah atau tengah melakukan proses membaca top down?
Pemahaman pembelajar dapat diketahui dari evaluasi membaca. Seorang pembelajar yang telah membaca dapat dinilai pemahamannya dengan sebuah evaluasi membaca. Dari analogi di atas, seorang pembelajar pun dapat dinilai telah atau tengah melakukan proses membaca top down. Dengan demikian, seseorang dapat dinilai telah melakukan model membaca top down dari pemahamannya terhadap bacaan yang dimilikinya. Bila pemahaman itu menunjukkan sesuatu (perkembangan), maka bisa dikatakan ia telah melakukan model membaca top down.
Sekalipun demikian, dapatkah dibedakan antara seseorang melakukan model membaca top down dengan model membaca lainnya, misalnya model membaca bottom up, teknik skiming atau skaning?
Jika pertanyaan di atas dijawab dengan tidak, berarti model membaca top down sama sekali tidak bisa dilihat tanda-tanda visualnya. Tanda-tanda nonvisualnya pun berupa pemahaman dapat dilihat, namun tidak bisa dibedakan dengan membaca skiming atau skaning.
Seseorang melakukan kegiatan membaca dengan model membaca top down berdasar pada pengetahuannya. Karena seseorang mengetahui teori membaca top down yaitu menafsirkan teks berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya boleh jadi ia melakukan model membaca top down. Tetapi hal itu tidak dapat diamati oleh orang lain. Pengajar hanya dapat menanyakan kepada pembelajar pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut. (1) Apakah Anda mengenal model membaca top down? (Jelaskan!) (2) Apakah Anda bisa membaca dengan model membaca top down? (3) Apakah Anda tadi membaca dengan model membaca top down? (4) Jelaskan perbedaan membaca top down dengan membaca lain!
Ketika mengajukan pertanyaan seperti ini pengajar mesti berasumsi bahwa pembelajar jujur dalam menjawab pertanyaannya. Bila pengajar mencurigai pembelajar tidak jujur, pengajar dapat mengeluarkannya dari kelas atau dari sampel penelitian.
Di dalam sebuah blog dengan alamat
https://www.blogger.com/comment.g?blogID=2988933272568977847&postID=719238047463168687&page=1
Abdurahman menjelaskan bahwa pada model membaca top down, "... Sementara model top down pula menggunakan pengetahuan masa lampau dalam memahami teks tetapi persoalannya, kedapatan pembaca yang membaca tidak mempunyai pengalaman lampau tentang apa yang dibaca. Justeru,pembaca tanpa pengalaman lalu merupakan pembaca yang gagal."
Abdurahman mengungkapkan bahwa ada pembaca yang tidak mempunyai pengalaman lampau tentang hal-hal yang dibacanya. Dengan kata lain, pembaca ini mempunyai pengetahuan yang relatif minim tentang hal-hal yang dibacanya. Bisa saja seseorang membaca tetapi pembaca ini tidak mengaitkan teks yang dibacanya dengan pengetahuannya.
Dalam teori mengingat dikatakan bahwa mengingat adalah mengaitkan suatu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. Jika demikian, mengingat ini akan berkaitan dengan model membaca top down. Jika model membaca top down ini dibedakan dengan model membaca bottom up, bukan berarti model membaca bottom up tidak mengaitkan bacaan dengan pengetahuannya; melainkan melakukan proses semata-mata berdasar pada teks / nas saja.
Posted by Iswara at 2:23 AM 0 comments
Labels: Membaca
